Beranda > pendidikan > Pengembangan Multiple Intelligences melalui Pembelajaran yang Mendidik

Pengembangan Multiple Intelligences melalui Pembelajaran yang Mendidik

NAEYC mengemukakan bahwa pendidikan anak usia dini merupakan layanan yang diberikan dalam tatanan awal masa anak (usia 0-8 tahun). Pengertian ini memiliki arti bahwa anak sejak lahir memerlukan suatu pengasuhan dan pelayanan yang mengarah pada upaya memfasilitasi anak agar dapat tumbuh dan berkembang secara optimal (Seefeldt, 1994). Dipilihnya usia 0-8 tahun sebagai rentangan pelayanan pendidikan anak usia ini, karena anak usia dini masih dalam perkembangan yang holistik pada semua aspek perkembangannya. Perkembangan pada salah satu aspek dipengaruhi dan mempengaruhi aspek-aspek perkembangan lainnya. Perkembangan kecerdasan juga sangat pesat di usia-usia tersebut, bahkan para ahli berpendapat hampir 80% kecerdasan anak berkembang pada rentangan usia tersebut. Namun karena sistem kelembagaan pendidikan yang agak berbeda, dalam UU No. 20 tahun 2003 disebutkan bahwa pendidikan anak usia dini ditujukan kepada anak sejak lahir sampai usia 6 tahun. Hal ini terjadi karena ketika anak berusia 6 atau 7 tahun sudah memasuki jenjang pendidikan sekolah dasar (SD).

Fokus pendidikan anak usia dini adalah peletakan dasar ke arah pertumbuhan dan perkembangan fisik, maupun psikisnya secara holistik dan terpadu. Atau kalau mengikuti taksonomi kecerdasan, Gardner mengemukakan anak memiliki potensi yang meliputi kecerdasan logic-mathematic, verbal-linguistik, visual-spatial, interpersonal, intrapersonal, bodily-kinestetic, musical-rithmic, dan natural. Pengembangan ke-8 bidang kecerdasan tersebut terjadi secara simultan. Oleh karena itu anak perlu difasilitasi dengan memberikan layanan yang kondusif, sehingga anak dapat berkembang secara optimal pada seluruh aspek kecerdasannya tersebut.

1. Strategi Pengembangan Multiple Intelligences pada Anak Usia Dini
Anak memiliki potensi berupa kecerdasan jamak. Kecerdasan anak akan berkembang secara optimal bila difasilitasi dengan baik dan benar, melalui strategi pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik dan perkembangannya. Strategi pembelajaran yang dipilih oleh guru, hendaknya menekankan pada konsep pembelajaran yang mendidik.
Dalam merancang pembelajaran yang mendidik, guru perlu memperhatikan modalitas belajar anak. Ada empat modalitas belajar anak, yakni: (1) visual learner, (2) auditory learner, (3) tactile/kinesthetic learner, dan (4) global learner (DePorter, dan Mike H.,1992). Dalam modalitas yang pertama, anak cenderung mengalami pengalaman belajar dengan cara mengamati sesuatu. Anak lebih mengandalkan indera penglihatan dalam belajar. Dalam hal ini guru hendaknya memfasilitasi kebutuhan anak dengan cara menyediakan media visual yang menarik. Dalam modalitas yang kedua, anak lebih mengandalkan indera pendengarnya. Anak dengan mudah memahami sesuatu jika dia memperoleh kesempatan untuk mendengarkan berbagai bahan yang disajikan melalui media audio atau penjelasan langsung dari narasumber. Modalitas belajar yang ketiga, lebih mengandalkan pada pengalaman belajar dengan cara menyentuh, bergerak dan bekerja. Sementara modalitas yang keempat, anak dalam belajar menggunakan ketiga modalitas tersebut secara simultan.

Sementara ini, secara umum guru cenderung mengutamakan kecerdasan logic-mathematic. Anak dikatakan cerdas jika anak mampu membaca, berhitung dan menulis dengan cepat, serta dapat menghafal berbagai kejadian. Strategi yang seperti itu cenderung menafikan potensi anak terutama yang ada di belahan otak kanan, sehingga anak menjadi kurang kreatif dalam memecahkan masalah. Padahal permasalahan kehidupan bersifat multi dimensi, yang tidak dapat ditinjau dari salah satu aspek saja. Berdasarkan hal ini guru perlu memilih strategi pembelajaran yang dapat memfasilitasi perkembangan otak belahan kiri dan kanan secara seimbang, sehingga semua aspek kecerdasan dapat berkembang secara optimal. Strategi yang dimaksud mengarah pada pembelajaran yang mendidik, yang dapat memberdayakan seluruh aspek perkembangan dan kecerdasan anak.

2. Karakteristik Pembelajaran yang Mendidik
Pembelajaran merupakan suatu upaya untuk menyediakan seperangkat kondisi lingkungan yang dapat merangsang anak untuk melakukan aktivitas belajar. Dalam hal ini, guru termasuk orang dewasa berperan menciptakan lingkungan yang kondusif dan dinamis untuk anak belajar. Ada 4 pilar belajar yang dapat dijadikan acuan dalam mengembangkan pembelajaran yang mendidik, yaitu: (1) learning how to know, (2) learning how to do, (3) learning how to be, dan (4) learning how to life together.

Bagian pertama, guru dan orang dewasa menciptakan lingkungan belajar yang dapat memicu rasa ingin tahu anak. Misalnya dengan mengajak anak berhadapan dengan lingkungan yang baru, menghadapkan anak pada gejala yang berbeda dari situasi keseharian anak. Wujud dari perilaku anak yang memiliki rasa ingin tahu antara lain, bertanya-tanya tentang sesuatu, mengamati sesuatu secara seksama, dan ingin mencoba pengalaman/keterampilan baru. Dalam hal ini guru dan orang dewasa lainnya hendaknya menjadi pendengar yang baik, melayani pertanyaan anak tanpa memberikan jawaban yang instan. Selain itu anak perlu digiring pada pengalaman baru yang menyebabkan rasa keingintahuannya itu terpenuhi.

Kedua, berkecamuknya rasa ingin tahu anak akan memerlukan suatu kompensasi. Anak akan mencoba memahami sesuatu dengan melakukan kegiatan secara langsung (a hand on experiences). Anak bereksperimen, memanipulasi alat-alat bermainnya, mengkonstruksi sesuatu dan lain sebagainya secara trial and error. Peran guru dan orang dewasa adalah memfasilitasi dengan berbagai sarana/alat permainan manipulatif, sehingga anak merasa tertantang melakukan sesuatu (bermain secara aktif). Hindari penggantian peran oleh guru/orang dewasa dalam memecahkan masalah anak. Biarkan mereka secara kreatif memecahkan masalahnya, tanpa intervensi orang dewasa/guru. Bila diperlukan guru berperan sebagai partner anak dalam belajar dan bermain, sambil mengamati perkembangan anak.

Ketiga, apa yang dilakukan anak pada bagian kedua tadi akan membentuk kepribadian anak. Kemandirian, keuletan, belajar dari kesalahan dan rasa sukses dalam memecahkan permasalahan akan membuat anak memiliki konsep diri yang positif, dan rasa percaya diri yang mantap.

Keempat, kesempatan anak untuk bersosialisasi dengan lingkungannya perlu dikembangkan. Misalnya dengan cara collaborative learning and playing. Kebersamaan, kekompakan, mau menyadari kelebihan dan kekurangan diri sendiri dan orang lain merupakan tujuan dari learning how to life together.

Chen (2004) mengemukakan ada 6 prinsip dasar dalam pengembangan kurikulum dan pembelajaran dalam rangka memfasilitasi perkembangan kecerdasan jamak pada anak, yaitu: (1) holistic development and learning, (2) integrated learning, (3) active learning, (4) supportive learning, (5) learning through interaction, dan (6) learning trough play. Pengembangan kurikulum dan pembelajaran hendaknya berangkat dari pemahaman terhadap perkembangan dan gaya belajar anak usia dini yang bersifat holistik. Pendekatan pembelajaran yang digunakan untuk memfasilitasi karakteristik perkembangan dan belajar anak adalam melalui pembelajaran terpadu. Keterpaduan ini meliputi proses dan materinya, sehingga menghasilkan pembelajaran yang bermakna dan menyenangkan. Pembelajaran yang bermakna dan menyenangkan akan merangsang anak untuk bermain dan belajar secara aktif. Peran guru adalah mendorong terjadinya belajar. Untuk lebih memperluas wawasan dan berkembangnya kemampuan berbahasa dan sosial anak, maka pembelajaran hendaknya memungkinkan anak berinteraksi dengan lingkungannya. Interaksi anak dengan lingkungan dan objek-objek belajar akan memungkinkan anak mengkonstruksi pengalaman belajarnya secara efektif. Mengingat dunia anak usia dini adalah bermain, maka pembelajaran dikemas dalam bentuk permainan kreatif-konstruktif, sehingga anak secara alamiah belajar di balik kegiatan bermain yang dilakukannya.

Implikasi dari prinsip-prinsip di atas, maka strategi pembelajaran yang dilakukan oleh guru adalah: (1) dimulai dari anak, (2) pengembangan suasana belajar yang positif atau kondusif, (3) penyiapan lingkungan pembelajaran, (4) perencanaan dan aktivitas belajar yang terstruktur, (50 pengadaan nara sumber, dan (6) mengadakan observasi kepada anak.

Dengan demikian karakteristik pembelajaran yang mendidik adalah: (1) memungkinkan anak untuk mengembangkan rasa keingintahuannya, (2) memberi kesempatan anak untuk mengadakan eksplorasi terhadap lingkungan dan objek-objek belajarnya secara langsung (a hand on experiences), secara trial and error, sebagai wahana untuk mengkonstruksi pengalaman belajarnya, (3) berdasarkan poin 2, anak terfasilitasi untuk membentuk konsep diri, rasa percaya diri, disiplin, mandiri dan kemampuan mengendalikan diri berdasarkan nilai keagamaan, norma sosial, serta kreatif dalam memecahkan permasalahannya, (4) memungkinkan anak berinteraksi dan bekerja sama dengan orang lain, sehingga aspek perkembangan moral dan sosial anak berkembang secara optimal di era globalisasi dan teknologi informasi, dan (5) pembelajaran bermuara kepada outcome berupa terbentuknya kecakapan pribadi, sosial, akademik dan vokasional pada anak usia dini.

Untuk mewujudkan hal itu, pembelajaran hendaknya bersifat kontekstual. Nurhadi dkk. (2004) mengemukakan bahwa dalam pembelajaran kontekstual, guru menghadirkan dunia nyata ke dalam kelas dan memdorong anak membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari. Dengan demikian anak memperoleh pengetahuan dan keterampilan dari konteks yang terbatas, sedikit demi sedikit, dan dari proses mengkonstruksi sendiri sebagai bekal untuk memecahkan masalah dalam kehidupannya sebagai anggota masyarakat.

Kategori:pendidikan
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: