Beranda > Uncategorized > Pendidikan untuk Semua, Benarkah?

Pendidikan untuk Semua, Benarkah?

Dalam UUD 1945 dituliskan bahwa pendidikan adalah hak bagi semua warga negara, berarti setiap warga negara RI harus terdidik dan mendapatkan pendidikan yang memenuhi standar yang telah ditentukan. Tentunya pendidikan bagi semua elemen masyarakat banyak faktor yang akan melatar belakangi dan membuatnya terlaksana, seperti apa kualitasnya, seperti apa orang-orang didalamnya dan bagaimana kualitas dari out put pendidikan itu.

Kita tahu bahwa ada banyak definisi pendidikan. Ini jelas menunjukkan bahwa pendidikan dipandang sebagai hal yang sangat penting, sehingga banyak pihak yang merasa perlu untuk memberikan definisi — pengertian atau memaknainya. Pendidikan menurut pengertian Yunani adalah pedagogik, yaitu : ilmu menuntun anak. Orang Romawi melihat pendidikan sebagai educare, yaitu mengeluarkan dan menuntun, tindakan merealisasikan potensi anak yang dibawa waktu dilahirkan di dunia. Bangsa Jerman melihat pendidikan sebagai Erziehung yang setara dengan educare, yakni : membangkitkan kekuatan terpendam atau mengaktifkan kekuatan/potensi anak. Dalam bahasa Jawa, pendidikan berarti panggulawentah (pengolahan – Red), mengolah, mengubah kejiwaan, mematangkan perasaan, pikiran, kemauan dan watak, mengubah kepribadian sang anak.

Dari sisi manajemen pendidikan terdapat beberapa hal penting yang harus diperhatikan dalam sistem pendidikan. Ada banyak pihak yang terkait dalam sistem ini, mereka adalah Kepala Sekolah, guru-guru, karyawan, siswa, pemilik sekolah, pemerintah, orang tua siswa, perusahaan (sektor swasta), Lembaga Swadaya Masyarakat, masyarakat umum dan lingkungan. Selain itu ada banyak prosedur yang harus dijalankan. Tertumpahnya semua pihak terkait dalam sistem pendidikan harus diantisipasi dengan sistem tata laksana yang baik. Dengan demikian maka dibutuhkan banyak sekali prosedur agar semua skala prioritas dan penyebaran pendudukan kepentingan dari berbagai pihak dapat tertata dengan baik. Ada banyak tuntutan yang harus dipenuhi, seperti prinsip keseimbangan hanya akan terjadi bila kepuasan akan terakomodasi. Untuk di Indonesia, persoalan tawuran pelajar, narkoba, seks bebas dan sebagainya kemungkinan besar adalah bermula dari ketidakseimbangan pengakomodasian kebutuhan kepuasan dari pihak terkait.

Logikanya, kualitas pendidikan akan berbanding lurus dengan pendanaan. Semakin tinggi pendanaan pendidikan tentunya outputnya akan semakin baik. Permasalahannya, apakah saat ini semua masyarakat Indonesia memiliki cukup dana untuk pendidikan? Kesenjangan dan kondisi perekonomian Indonesia saat ini ternyata tidak memungkinkan semua warganya mendapat pendidikan yang layak. Hal ini dapat diartikan bukan hanya pada kesanggupan sebagian warga Indonesia untuk belajar di sekolah – membayar SPP dan lainnya – tetapi ada sebagian kalangan yang lebih memikirkan kepada apa yang akan saya makan bila waktu saya dipakai ke sekolah. Hal ini wajar karena memang dalam kehidupan mereka bila mereka tidak bergiat mencari nafkah maka mereka tidak mendapat sesuatu untuk dimakan, sedangkan makan adalah aktivitas utama manusia dimana bila manusia tidak makan maka ia tidak bisa bertahan hidup. Karenanya banyak kita lihat anak usia sekolah yang seharusnya sedang nyaman di bangku sekolah tapi malahan berada di jalan atau tempat lain yang tidak semestinya bagi mereka karena mereka harus mencari makan agar bisa bertahan hidup. Lalu, apakah pendidikan bagi semua warga negara hanya merupakan slogan belaka? Atau hanya sebuah hiasan indah Undang-Undang agar negara tetangga memandang kita sebagai negara yang bermartabat?

Semua elemen bangsa seharusnya menyadari masalah ini, dan merasa bersyukur bagi mereka yang telah dapat mengenyam pendidikan secara layak atau bahkan mungkin berlebih, karena itulah fenomenanya, ada kesenjangan juga dalam pendidikan. Ada anak orang berada yang selain bersekolah, ia juga mengikuti berbagai les atau kursus untuk menambah pengetahuannya. Sedangkan disisi lain ada anak yang sama sekali tak pernah bersekolah atau merasakan manisnya pendidikan. Rasa syukur kita karena telah terdidik sebaiknya diwujudkan dalam bentuk cinta yang nyata bagi mereka yang selama ini tidak pernah merasakan nikmat pendidikan seperti yang anda rasakan. Bagi kita yang beruntung dapat merasakan pendidikan mari kita menyumbangkan sebagian rizki yang kita miliki untuk mereka yang selama ini tidak dapat bersekolah, donasi anda dapat berupa uang, material, ataupun kerja.

Bagi pemerintah, tentunya tidak dapat menutup mata akan kondisi ini. Pemerintah perlu menggarap sebuah konsep ideal bagi terciptanya pendidikan yang adil dan merata bagi semua kalangan di Indonesia. Tentunya dilakukan dengan kerjasama dengan instansi pemerintah lainnya dan atau dengan lembaga swadaya masyarakat yang concern menangani masalah ini. Juga pelunya peralatan perundangan yang menunjang dan dapat mendukung terselenggaranya pendidikan bagi semua. Mari kita coba mewujudkan pendidikan yang merata bagi semua anak Indonesia agar masa depan Indonesia dapat lebih baik.

Alfa, akhir April 2009

Kategori:Uncategorized
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: