Beranda > Uncategorized > Pecinta Alam dan Akulturasi Pendidikan Berbasis Komunitas Adat

Pecinta Alam dan Akulturasi Pendidikan Berbasis Komunitas Adat

Pendidikan merupakan barang yang cukup mahal di negeri ini, ditambah seringkali proses pendidikan tersebut diterjemahkan dalam terminologi yang sempit, batasan formalitas berupa kurikulum dan sisten yang tidak pernah stabil dan hanya menghasilkan produk manusia bergelar tanpa bingkai etika, skill kemampuan menata kehidupan social dengan arif dan bijaksana. Hal ini lebih banyak kita temukan pada jenjang sekolah dari tingkat dasar sampai menengah di Indonesia. Secara peruntukan dan kewilayahan, daya dukung yang besar terhadap pendidikan hanya dapat diperoleh golongan dengan kemampuan ekonomi yang mapan atau masyarakat modern yang berada di kota – kota besar atau dekat dengan pusat pemerintahan.

Wilayah geografis Indonesia yang begitu variatif membuat masyarakat Indonesia tersebar luas di pelosok Sabang sampai dengan Merauke, tidak hanya di Kota Besar, sebagian dari penduduk Indonesia masih banyak yang tinggal pada daerah dengan kondisi alam yang menantang, di bukit, pegunungan, pesisir pantai sampai di belantara hutan. Mereka yang berada pada situasi dan kondisi seperti itu biasanya memiliki banyak keterbatasan akses baik ekonomi, sosial, pendidikan maupu informasi. Mereka sering menjadi komunitas yang termarjinalkan, dalam pendidikan misalnya, mereka dianggap sebagai kumpulan orang – orang primitif yang tidak berbudaya dan bodoh. Akan banyak kita temui hal tersebut bila mendengar atau melihat tentang kondisi kehidupan suku – suku yang ada di pedalaman Indonesia, nasib pendidikan mereka mungkin hampir tidak terpikirkan oleh pemerintah. Hal ini dapat terlihat jarangnya atau bahkan tidak ada sekolah – sekolah yang beroperasi di daerah pedalaman.

Masyarakat yang tinggal di daerah pedalaman tersebut biasanya akan membentuk komunitas sendiri dalam bentuk suku – suku yang memiliki ada istiadat khas untuk setiap wilayah. Kita mengenal di Jambi ada suku anak dalam, di jawa Barat terdapat suku baduy atau di pedalaman Irian da masyarakat yang masih menggunakan koteka sebagai pakaian kesehariannya. Kebanyakan orang mungkin menganggap mereka primitive dan tak berbudaya, padahal kenyataan mengatakan sebaliknya. Kesan terasing dari peradaban justru memberikan kelebihan tersendiri bagi mereka dalam bentuk kearifan tradisional. Kearifan tradisional ini membentuk tiga karakter penting bagi komunitas adat tersebut terhadap alam yang ditempatinya, yaitu: pertama, nilai religius dan etika sosial yang mendasari praktek – praktek pemanfaatan sumber daya alam hayati, Kedua, Norma dan aturan adat yang mengaur hubungan antara komunitas dan lingkungan alamnya, Ketiga, pengetahuan local dan empirik selama berpuluh – puluh bahkan ratusan tahun yang dijadikan dasar dalam pengelolaan sumber daya alam hayatinya. Ketiga karakter tersebutlah yang melandasi tatanan kehidupan sosial, budaya dan politik mereka.

Hal di atas membuktikan bahwa tidak sepenuhnya benar pandangan kebanyakan orang bahwa komunitas adat adalah sebuah kumpulan manusia tanpa keteraturan dan budaya. Kenyataan justru berkata sebaliknya, banyak kita temui hari ini bahwa penyumbang terbesar kerusakan alam dan eksploitasi besar – besaran Sumber Daya Alam adalah mereka yang dikatakan sebagai manusia modern yang berpendidikan tinggi, jauh api dari panggang. Pendidikan modern dengan menciptakan strata sosial dalam masyarakat ternyata hanya mampu melahirkan pribadi dengan etika dan sense belonging yang rendah. Kemajuan Teknologi hanya dimaknai sebagai proses modernisasi alat dan material dalam pendidikan, tanpa diimbangi dengan terminologi sebagai sebuah kesatuan proses dan sistem yang mampu membentuk Manusia Cerdas dan Berbudaya.

Komunitas adat dengan segala dinamikanya merupakan kekayaan bangsa yang harus dijaga dan dilestarikan untuk menjadi daya dukung bagi lestarinyan ala mini. Penerataan pendidikan adalah sebuah keniscayaan yang menjadi hak warga Negara Indonesia dimanapun berada. Pemerintah seharusnya bertanggung jawab memberikan sentuhan pendidikan yang menyesuiakan dengan potensi local, tidak melulu menjadikan Ujan |Akhir Nasional atau berbagai perangkat formalitas lainnya sebagai standar yang disama ratakan di semua wilayah.

Kemajuan akan diperoleh dan nasib pendidikan dan peningkatan kualitas kehidupan sosial komunitas adat akan terwujud dengan sebuah aksi nyata, tanpa harus menunggu kebijakan dari pemerintah atau pihak terkait yang terkadang terlalu penuh dengan birokrasi. Program Pendidikan untuk masyarakat pedalaman haruslah memperhatikan potensi lokal serta potensui Sumber Daya Alam yang dimilki, karena alam merupakan sumber bahan ajar yang tidaka akan habis dan selalu memberikan realita bukan hanya teori belaka. Selain sumber ajar atau bahan ajar, tentu saja perangakat pendidikan yang penting jga yaitu adanya faslitator atau pendidik. Pendidik untuk masyarakat pedalaman akan lebih tepat bila diperankan oleh komunitas yag dekat dengan alam dan memahami kehidupan di alam. Adalah seoraang Butet Manurung yang telah membuktikan pengabdiannya selama 4 tahun di tengah rimab belantara Bukit Tujuh Belas Jambi, Sumatera Timur.

Seorang Butet Manurung telah berhasil mendirikan dan menjalankan sebuah Sekolah Rimba, sebagai Sekolah Alternatif yang diperuntukkan bagi anak – anak suku setempat. Berawal dari seorang pecinta alam yang suka melakukan penjelajahan kea lam untuk membuktikan diri sebagai pemberani, hingga akhirnya dipertemukan dengan sebuah fenomena adanya komunitas anak – anak kecil di suku anak dalam dengan kehidupan yang unik. Kendala bahasa dan informasi menjadikan anak – anak tersebut dan sebagian suku anak dalam tidak tersentuh kemajuan zaman, justru sebaliknya menjadi korban dari kemajuan teknologi. Mereka hanyalah dianggap sebagai kaum yang bodoh dan primitif serta mengganggu proses eksploitasi alam yang dilakukan oleh orang – orang yang tidak bertanggung jawab. Kenyataan itulah yang menjadikan Butet Manurung memutuskan untuk mengabdikan dirinya, beralih dari hanya sekedar pecinta alam menjadi seorang pecinta alam sekaligus pendidik yang berjiwa alam. Beliau mlihat adanya potensi kearifan yang dimiliki oleh masyarakat tersebut, sehingga membuat sarjana Bahasa Indonesia dan Antropologi UNPAD itu mengajarkan cara – cara berkomunikasi yang baik dengan metode silabel, sebuah metode yang diolah oleh Butet agar anak – anak tersebut dapat memahami Bahasa Indonesia.

Bukanlah hal yang mudah memang, tetapi melalui kegigihannya selama 4 tahun, beliau berhasil mewujudkan impiannya menjadikan anak – anak tersebut dapat membaca, berkomunikasi dan menghitung dengan baik. Prinsipnya adalah bagaimanana hobi yang digelutinya yaitu menjelajah alam tidak hanya bermanfaat bagi dirinya semata, tetapi juga bagi orang lain di sekitarnya. Butet Manurung mengakui bahwa pendekatan pendidikan yang diberikan untuk anak – anak di suku pedalaman seperti itu tidak dapat menggunakan pendekatan layaknya orang kota belajar. Seperti apa yang pernah dialaminya ketika sedang mengajar anak – anak, tiba – tiba datanglah seekor Beruang dengan anaknya, lalu naiklah Butet ke atas pohon. Sedangkan anak – anak didiknya justru memanahnya, mungkin menurut pandangan Butet atau kebanyakan orang itu salah, tapi bagi aturan adat setempat hal tersebut dianggap sebagai rezeki dari dewa mereka. Pengalaman tersebut menambah sebuah pemahaman bagi Butet bahwa pendidikan yang baik harus menyesuiakan dfengan keadaan local masyarakatnya. Melalui Komunitas SOKOLA Rimbanya Butet terus berusaha untuk menghadirkan pengeahuan modern yang ramah dengan metomemperhatikan komunitas adat setempat.

Pendidikan berbasis budaya adat setempat merupakan sebuah keniscayaan yang dapat diwujudkan, karena telah banyak bukti yang mendukungnya. Kerja budaya terbagi ke dalam beberapa prinsip dasar yaitu: pendidikaan harus membumi, menguntungkan, diorganisasi secara lokal, menumbuhkan kesadaran akan kebudayaan, memberikan keyakinan siapa dirinya dan mau jadi apa dirinya kelak (Aat Suratin, jugaguru.com). Artinya hal tersebut sangat mungkin diwujudkan dengan terlebih dahulu adanya pengenalan akan budaya setempat serta seorang pendidik yang siap secara kognitif dan berjiwa alam.

Peran strategis ini sangat tepat jika dijalankan oleh komunitas pecinta alam, walaupun tidak menutup kemungkinan elemen masyarakat lainnya. Pecinta alam merupakan orang – orang yang memiliki jiwa keberanian yang lebih tinggi dibandingkan kebanyakan orang umumnya. Keinginan mereka adalah menggapai ketimggian atau menjelajah pedalaman yang belum mungkin dijangkaun oleh kebanyakan orang. Latar belakang merekapun biasanya beragam dan lintas bidang, ada yang dari sains, ahl bahasa, anropologi, sosiologi, dan banyak bidang lainnya. Artinya wilayah pecinta ala mini dapat diisi oleh siapapun dengan berbagai latar belakang profesi. Keunikan inilah yang sebenarnya dapat diberdayakan dan diarahkan untuk berbagi pengetahuan dan mendidik masyarakat yang berada di wilayah pedalaman. |Jadi, tidak hany sekedar pecinta alam yang mempunyai cita – cita singkat hany mencapai ketinggian dan bermain – main saja tanpa diiringi dengan kemuliaan tujuan social.

Seorang Butet Manurung dengan keahlian bahasanya dapat mengajarkan mengenai bahasa, mungkin pecinta alam lain dengan latar belakang sains misalnya, dapat mengajarkan anak – anak di suku pedalaman tentang pengetahuan popular sains. Hal tersebut sangat memungkinkan bagi mereka, karena sains itu sangat dekat dengan alam (contohnya pelajaran IPA), mereka dapat belajar lebih aplikatif dibandingkan dengan anak – anak di wilayah perkotaan yang jauh dari gunung, bukit atau hutan. Seorang pendidik di alam bukan hanya sebagai guru, tapi sekaligus juga sebagai sahabat belajar yang bersama menimba ilmu, karena umumnya masyarakat pedalaman tersebut telah memiliki teknologi mengolah alam yang sangat unik yang mungkin belum pernah kita temui sebelumnya, walaupun hal tersebut ada dalam konep teoritis. Contohnya ada di sebuah daerah pedesaan yang tidak terjangkau listrik, masyarakatnya sudah dapat menikmati lampu dengan menggunakan teknologi sederhana Pembangkit Listrik Tenaga Air yang diletakkan di aliran sungai yang deras, berbeda jauh dengan pembangkit listrik yang sudah berskala canggih.

Harapan untuk tercapainya model pendidikan yang ideal untuk masyarakat pedalaman di kawasan Indonesia tidaklah mungkin dapat diwujudkan dari prakarsa orang perorang, tapi harus dengan sebuah sinergi. Para pecinta alam dengan latar belakang yang beragam tersebut dapat membentuk sebuah Komunitas Pecinta alam Plus yang doisertai dengan kegiatan sosial dan edukasi untuk masyarakat. Selain apa yang telah dilakukan oleh Komunitas SOKOLA Butet, kita pernah juga mendengar nama Wanadri, Yayasan Pribumi dengan program ‘Ranger Kampungnya’ sebagai usaha pendidikan Konservasi, atau Konservasi Alam Nusantara (KONUS) dengan program Kelompok Konservasi Sekolahnya. Hal ini seharusnya dapat menjadi perhhatian berbagai pihak tentang pentingnya kepedulian kita, tidak hanya LSM tetapi juga pemerintah sebagai pihak pembuat kebijakan maupun elemen lainnya untuk melihat sisi penting pemerataan pendidikan hingga ke masyarakat pedalaman, sebuah model pendidikan yang menyenangkan untuk anak – anak tersebut, pendidikan yang mengajarkan bagiamana alam memberikan ruang yang luas untuk belajar dengan tetap memperhatika Keaslian Komunitas ada setempat.

Seorang pakar pendidikan pernah mengatakan, ‘orang lokal mengejar mimpi dan mewujudkan mimpi itu, sedangkan orang kota tidak demikian’.Di esok hari kita berharap dapat menemukan model pecinta alam lainnya yang menjadi ‘pahlawan tanpa tanda jasa’ di daerah pedalama , jauh dari pujian dan pangkat.

Mengutip pernyataan dari Presiden SBY pada Majalah Times edisi Oktober 2005: “Every society need heroes,and every society has them,The reason, we don’t often see them is because we don’t bother to look to them”. Sebuah pujian yang diberikan untuk seorang Butet Manurung dan para pahlawan pendidikan lainnya. (alfa)

  1. 24 Juni, 2009 pukul 5:34 pm

    Salut. Sedikit dari kita yang mau seperti itu. Betul-betul semangat dan perjuangan yang dilandasi keikhlasan yang tak berpamrih.

    Walau tidak sehebat Butet Manurung, tetapi saya pernah juga mengenal seorang yang BUKAN TOKOH TERKENAL tetapi mempunyai dedikasi yang tinggi dalam pendidikan (utamanya dalam penumbuhkembangan kecintaan terhadap alam).

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: