Pengembangan Multiple Intelligences melalui Pembelajaran yang Mendidik

28 Juli, 2010 Tinggalkan komentar

NAEYC mengemukakan bahwa pendidikan anak usia dini merupakan layanan yang diberikan dalam tatanan awal masa anak (usia 0-8 tahun). Pengertian ini memiliki arti bahwa anak sejak lahir memerlukan suatu pengasuhan dan pelayanan yang mengarah pada upaya memfasilitasi anak agar dapat tumbuh dan berkembang secara optimal (Seefeldt, 1994). Dipilihnya usia 0-8 tahun sebagai rentangan pelayanan pendidikan anak usia ini, karena anak usia dini masih dalam perkembangan yang holistik pada semua aspek perkembangannya. Perkembangan pada salah satu aspek dipengaruhi dan mempengaruhi aspek-aspek perkembangan lainnya. Perkembangan kecerdasan juga sangat pesat di usia-usia tersebut, bahkan para ahli berpendapat hampir 80% kecerdasan anak berkembang pada rentangan usia tersebut. Namun karena sistem kelembagaan pendidikan yang agak berbeda, dalam UU No. 20 tahun 2003 disebutkan bahwa pendidikan anak usia dini ditujukan kepada anak sejak lahir sampai usia 6 tahun. Hal ini terjadi karena ketika anak berusia 6 atau 7 tahun sudah memasuki jenjang pendidikan sekolah dasar (SD).

Fokus pendidikan anak usia dini adalah peletakan dasar ke arah pertumbuhan dan perkembangan fisik, maupun psikisnya secara holistik dan terpadu. Atau kalau mengikuti taksonomi kecerdasan, Gardner mengemukakan anak memiliki potensi yang meliputi kecerdasan logic-mathematic, verbal-linguistik, visual-spatial, interpersonal, intrapersonal, bodily-kinestetic, musical-rithmic, dan natural. Pengembangan ke-8 bidang kecerdasan tersebut terjadi secara simultan. Oleh karena itu anak perlu difasilitasi dengan memberikan layanan yang kondusif, sehingga anak dapat berkembang secara optimal pada seluruh aspek kecerdasannya tersebut.

1. Strategi Pengembangan Multiple Intelligences pada Anak Usia Dini
Anak memiliki potensi berupa kecerdasan jamak. Kecerdasan anak akan berkembang secara optimal bila difasilitasi dengan baik dan benar, melalui strategi pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik dan perkembangannya. Strategi pembelajaran yang dipilih oleh guru, hendaknya menekankan pada konsep pembelajaran yang mendidik.
Dalam merancang pembelajaran yang mendidik, guru perlu memperhatikan modalitas belajar anak. Ada empat modalitas belajar anak, yakni: (1) visual learner, (2) auditory learner, (3) tactile/kinesthetic learner, dan (4) global learner (DePorter, dan Mike H.,1992). Dalam modalitas yang pertama, anak cenderung mengalami pengalaman belajar dengan cara mengamati sesuatu. Anak lebih mengandalkan indera penglihatan dalam belajar. Dalam hal ini guru hendaknya memfasilitasi kebutuhan anak dengan cara menyediakan media visual yang menarik. Dalam modalitas yang kedua, anak lebih mengandalkan indera pendengarnya. Anak dengan mudah memahami sesuatu jika dia memperoleh kesempatan untuk mendengarkan berbagai bahan yang disajikan melalui media audio atau penjelasan langsung dari narasumber. Modalitas belajar yang ketiga, lebih mengandalkan pada pengalaman belajar dengan cara menyentuh, bergerak dan bekerja. Sementara modalitas yang keempat, anak dalam belajar menggunakan ketiga modalitas tersebut secara simultan.

Sementara ini, secara umum guru cenderung mengutamakan kecerdasan logic-mathematic. Anak dikatakan cerdas jika anak mampu membaca, berhitung dan menulis dengan cepat, serta dapat menghafal berbagai kejadian. Strategi yang seperti itu cenderung menafikan potensi anak terutama yang ada di belahan otak kanan, sehingga anak menjadi kurang kreatif dalam memecahkan masalah. Padahal permasalahan kehidupan bersifat multi dimensi, yang tidak dapat ditinjau dari salah satu aspek saja. Berdasarkan hal ini guru perlu memilih strategi pembelajaran yang dapat memfasilitasi perkembangan otak belahan kiri dan kanan secara seimbang, sehingga semua aspek kecerdasan dapat berkembang secara optimal. Strategi yang dimaksud mengarah pada pembelajaran yang mendidik, yang dapat memberdayakan seluruh aspek perkembangan dan kecerdasan anak.

2. Karakteristik Pembelajaran yang Mendidik
Pembelajaran merupakan suatu upaya untuk menyediakan seperangkat kondisi lingkungan yang dapat merangsang anak untuk melakukan aktivitas belajar. Dalam hal ini, guru termasuk orang dewasa berperan menciptakan lingkungan yang kondusif dan dinamis untuk anak belajar. Ada 4 pilar belajar yang dapat dijadikan acuan dalam mengembangkan pembelajaran yang mendidik, yaitu: (1) learning how to know, (2) learning how to do, (3) learning how to be, dan (4) learning how to life together.

Bagian pertama, guru dan orang dewasa menciptakan lingkungan belajar yang dapat memicu rasa ingin tahu anak. Misalnya dengan mengajak anak berhadapan dengan lingkungan yang baru, menghadapkan anak pada gejala yang berbeda dari situasi keseharian anak. Wujud dari perilaku anak yang memiliki rasa ingin tahu antara lain, bertanya-tanya tentang sesuatu, mengamati sesuatu secara seksama, dan ingin mencoba pengalaman/keterampilan baru. Dalam hal ini guru dan orang dewasa lainnya hendaknya menjadi pendengar yang baik, melayani pertanyaan anak tanpa memberikan jawaban yang instan. Selain itu anak perlu digiring pada pengalaman baru yang menyebabkan rasa keingintahuannya itu terpenuhi.

Kedua, berkecamuknya rasa ingin tahu anak akan memerlukan suatu kompensasi. Anak akan mencoba memahami sesuatu dengan melakukan kegiatan secara langsung (a hand on experiences). Anak bereksperimen, memanipulasi alat-alat bermainnya, mengkonstruksi sesuatu dan lain sebagainya secara trial and error. Peran guru dan orang dewasa adalah memfasilitasi dengan berbagai sarana/alat permainan manipulatif, sehingga anak merasa tertantang melakukan sesuatu (bermain secara aktif). Hindari penggantian peran oleh guru/orang dewasa dalam memecahkan masalah anak. Biarkan mereka secara kreatif memecahkan masalahnya, tanpa intervensi orang dewasa/guru. Bila diperlukan guru berperan sebagai partner anak dalam belajar dan bermain, sambil mengamati perkembangan anak.

Ketiga, apa yang dilakukan anak pada bagian kedua tadi akan membentuk kepribadian anak. Kemandirian, keuletan, belajar dari kesalahan dan rasa sukses dalam memecahkan permasalahan akan membuat anak memiliki konsep diri yang positif, dan rasa percaya diri yang mantap.

Keempat, kesempatan anak untuk bersosialisasi dengan lingkungannya perlu dikembangkan. Misalnya dengan cara collaborative learning and playing. Kebersamaan, kekompakan, mau menyadari kelebihan dan kekurangan diri sendiri dan orang lain merupakan tujuan dari learning how to life together.

Chen (2004) mengemukakan ada 6 prinsip dasar dalam pengembangan kurikulum dan pembelajaran dalam rangka memfasilitasi perkembangan kecerdasan jamak pada anak, yaitu: (1) holistic development and learning, (2) integrated learning, (3) active learning, (4) supportive learning, (5) learning through interaction, dan (6) learning trough play. Pengembangan kurikulum dan pembelajaran hendaknya berangkat dari pemahaman terhadap perkembangan dan gaya belajar anak usia dini yang bersifat holistik. Pendekatan pembelajaran yang digunakan untuk memfasilitasi karakteristik perkembangan dan belajar anak adalam melalui pembelajaran terpadu. Keterpaduan ini meliputi proses dan materinya, sehingga menghasilkan pembelajaran yang bermakna dan menyenangkan. Pembelajaran yang bermakna dan menyenangkan akan merangsang anak untuk bermain dan belajar secara aktif. Peran guru adalah mendorong terjadinya belajar. Untuk lebih memperluas wawasan dan berkembangnya kemampuan berbahasa dan sosial anak, maka pembelajaran hendaknya memungkinkan anak berinteraksi dengan lingkungannya. Interaksi anak dengan lingkungan dan objek-objek belajar akan memungkinkan anak mengkonstruksi pengalaman belajarnya secara efektif. Mengingat dunia anak usia dini adalah bermain, maka pembelajaran dikemas dalam bentuk permainan kreatif-konstruktif, sehingga anak secara alamiah belajar di balik kegiatan bermain yang dilakukannya.

Implikasi dari prinsip-prinsip di atas, maka strategi pembelajaran yang dilakukan oleh guru adalah: (1) dimulai dari anak, (2) pengembangan suasana belajar yang positif atau kondusif, (3) penyiapan lingkungan pembelajaran, (4) perencanaan dan aktivitas belajar yang terstruktur, (50 pengadaan nara sumber, dan (6) mengadakan observasi kepada anak.

Dengan demikian karakteristik pembelajaran yang mendidik adalah: (1) memungkinkan anak untuk mengembangkan rasa keingintahuannya, (2) memberi kesempatan anak untuk mengadakan eksplorasi terhadap lingkungan dan objek-objek belajarnya secara langsung (a hand on experiences), secara trial and error, sebagai wahana untuk mengkonstruksi pengalaman belajarnya, (3) berdasarkan poin 2, anak terfasilitasi untuk membentuk konsep diri, rasa percaya diri, disiplin, mandiri dan kemampuan mengendalikan diri berdasarkan nilai keagamaan, norma sosial, serta kreatif dalam memecahkan permasalahannya, (4) memungkinkan anak berinteraksi dan bekerja sama dengan orang lain, sehingga aspek perkembangan moral dan sosial anak berkembang secara optimal di era globalisasi dan teknologi informasi, dan (5) pembelajaran bermuara kepada outcome berupa terbentuknya kecakapan pribadi, sosial, akademik dan vokasional pada anak usia dini.

Untuk mewujudkan hal itu, pembelajaran hendaknya bersifat kontekstual. Nurhadi dkk. (2004) mengemukakan bahwa dalam pembelajaran kontekstual, guru menghadirkan dunia nyata ke dalam kelas dan memdorong anak membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari. Dengan demikian anak memperoleh pengetahuan dan keterampilan dari konteks yang terbatas, sedikit demi sedikit, dan dari proses mengkonstruksi sendiri sebagai bekal untuk memecahkan masalah dalam kehidupannya sebagai anggota masyarakat.

Kategori:pendidikan

Sekilas Tentang Pendidikan Kita

7 April, 2010 Tinggalkan komentar

Di tengah-tengah hutan belantara Sumatera berdirilah sebuah sekolah untuk para binatang dengan status “disamakan dengan manusia”, sekolah ini dikepalai oleh seorang manusia. Karena sekolah tersebut berstatus “disamakan”, maka tentu saja kurikulumnya juga harus mengikuti kurikulum yang sudah standar dan telah ditetapkan untuk manusia.

Kurikulum tersebut mewajibkan bahwa untuk bisa lulus dan mendapatkan ijazah ; setiap siswa harus berhasil pada lima mata pelajaran pokok dengan nilai minimal 8 pada masing-masing mata pelajaran. Adapun kelima mata pelajaran pokok tersebut adalah; Terbang, Berenang, Memanjat, Berlari dan Menyelam.

Mengingat bahwa sekolah ini berstatus “Disamakan dengan manusia”, maka para binatang berharap kelak mereka dapat hidup lebih baik dari binatang lainya, sehingga berbondong-bondongl ah berbagai jenis binatang mendaftarkan diri untuk bersekolah disana; mulai dari; Elang, Tupai, Bebek, Rusa dan Katak.

Proses belajar mengajarpun akhirnya dimulai, terlihat bahwa beberapa jenis binatang sangat unggul dalam mata pelajaran tertentu; Elang sangat unggul dalam pelajaran terbang; dia memiliki kemampuan yang berada diatas binatang-binatang lainnya dalam hal melayang di udara, menukik, meliuk-liuk, menyambar hingga bertengger di dahan sebuah pohon yang tertinggi.

Tupai sangat unggul dalam pelajaran memanjat; dia sangat pandai, lincah dan cekatan sekali dalam memanjat pohon, berpindah dari satu dahan ke dahan lainnya. Hingga mencapai puncak tertinggi pohon yang ada di hutan itu.

Sementara bebek terlihat sangat unggul dan piawai dalam pelajaran berenang, dengan gayanya yang khas ia berhasil menyebrangi dan mengitari kolam yang ada didalam hutan tersebut.

Rusa adalah murid yang luar biasa dalam pelajaran berlari; kecepatan larinya tak tertandingi oleh binatang lain yang bersekolah di sana . Larinya tidak hanya cepat melainkan sangat indah untuk dilihat.

Lain lagi dengan Katak, ia sangat unggul dalam pelajaran menyelam; dengan gaya berenangnya yang khas, katak dengan cepatnya masuk kedalam air dan kembali muncul diseberang kolam.

Begitulah pada mulanya mereka adalah murid-murid yang sangat unggul dan luar biasa dimata pelajaran tertentu. Namun ternyata kurikulum telah mewajibkan bahwa mereka harus meraih angka minimal 8 di semua mata pelajaran untuk bisa lulus dan mengantongi ijazah.

Inilah awal dari semua kekacauan.itu; Para binatang satu demi satu mulai mempelajari mata pelajaran lain yang tidak dikuasai dan bahkan tidak disukainya.

Burung elang mulai belajar cara memanjat, berlari, namun sayang sekali untuk pelajaran berenang dan menyelam meskipun telah berkali-kali dicobanya tetap saja ia gagal; dan bahkan suatu hari burung elang pernah pingsan kehabisan nafas saat pelajaran menyelam.

Tupaipun demikian; ia berkali-kali jatuh dari dahan yang tinggi saat ia mencoba terbang. Alhasil bukannya bisa terbang tapi tubuhnya malah penuh dengan luka dan memar disana-sini.

Lain lagi dengan bebek, ia masih bisa mengikuti pelajaran berlari meskipun sering ditertawakan karena lucunya, dan sedikit bisa terbang; tapi ia kelihatan hampir putus asa pada saat mengikuti pelajaran memanjat, berkali-kali dicobanya dan berkali-kali juga dia terjatuh, luka memar disana sini dan bulu-bulunya mulai rontok satu demi satu.

Demikian juga dengan binatang lainya; meskipun semua telah berusaha dengan susah payah untuk mempelajari mata pelajaran yang tidak dikuasainya, dari pagi hingga malam, namun tidak juga menampakkan hasil yang lebih baik.

Yang lebih menyedihkan adalah karena mereka terfokus untuk dapat berhasil di mata pelajaran yang tidak dikuasainya; perlahan-lahan Elang mulai kehilangan kemampuan terbangnya; tupai sudah mulai lupa cara memanjat, bebek sudah tidak dapat lagi berenang dengan baik, sebelah kakinya patah dan sirip kakinya robek-robek karena terlalu banyak berlatih memanjat. Katak juga tidak kuat lagi menyelam karena sering jatuh pada saat mencoba terbang dari satu dahan ke dahan lainnya. Dan yang paling malang adalah Rusa, ia sudah tidak lagi dapat berlari kencang, karena paru-parunya sering kemasukan air saat mengikuti pelajaran menyelam.

Akhirnya tak satupun murid berhasil lulus dari sekolah itu; dan yang sangat menyedihkan adalah merekapun mulai kehilangan kemampuan aslinya setelah keluar dari sekolah. Mereka tidak bisa lagi hidup dilingkungan dimana mereka dulu tinggal, ya…. kemampuan alami mereka telah terpangkas habis oleh kurikulum sekolah tersebut. Sehingga satu demi satu binatang-binatang itu mulai mati kelaparan karena tidak bisa lagi mencari makan dengan kemampuan unggul yang dimilikinya. .

Tidakkah kita menyadari bahwa sistem persekolahan manusia yang ada saat inipun tidak jauh berbeda dengan sistem persekolahan binatang dalam kisah ini. Kurikulum sekolah telah memaksa anak-anak kita untuk menguasai semua mata pelajaran dan melupakan kemampuan unggul mereka masing-masing. Kurikulum dan sistem persekolahan telah memangkas kemampuan alami anak-anak kita untuk bisa berhasil dalam kehidupan menjadi anak yang hanya bisa menjawab soal-soal ujian.

Akankah nasib anak-anak kita kelak juga mirip dengan nasib para binatang yang ada disekolah tersebut?

Bila kita kaji lebih jauh produk dari sistem pendidikan kita saat ini bahkan jauh lebih menyeramkan dari apa yang digambarkan oleh fabel tersebut; bayangkan betapa para lulusan dari sekolah saat ini lebih banyak hanya menjadi pencari kerja dari pada pencipta lapangan kerja, betapa banyak para lulusan yang bekerja tidak sesuai dengan latar belakang pendidikan yang digelutinya selama bertahun-tahun, sebuah pemborosan waktu, tenaga dan biaya. Betapa para lulusan sekolah tidak tahu akan dunia kerja yang akan dimasukinya, jangankan kemapuan keahlian, bahkan pengetahuan saja sangatlah pas-pasan, betapa hampir setiap siswa lanjutan atas dan perguruan tinggi jika ditanya apa kemampuan unggul mereka, hampir sebagian besar tidak mampu menjawab atau menjelaskannya.

Begitupun setelah mereka berhasil mendapatkan pekerjaan, berapa banyak dari mereka yang tidak memberikan unjuk kerja yang terbaik serta berapa banyak dari mereka yang merasa tidak bahagia dengan pekerjaanya.

Belum lagi kita bicara tentang carut marut dunia pendidikan yang kerapkali dihiasi tidak hanya oleh tawuran pelajar melainkan juga tawuran mahasiswa. Luar biasa “Maha Siswa” julukan yang semestinya dapat dibanggakan dan begitu agung karena Mahasiswa adalah bukan siswa biasa melainkan siswa yang “Maha”. Namun nyatanya ya Tawuran juga. Masihkah kita bisa berharap dari para pelajar kita yang seperti ini. Dan seperti apa potret negeri kita kedepannya dengan melihat potret generasi penerusanya saat ini?

Apa yang menjadi biang keladi dari kehancuran sistem pendidikan di negeri ini…?
1. Sistem yang tidak menghargai proses
Belajar adalah proses dari tidak bisa menjadi bisa. Hasil akhir adalah buah dari kerja setiap proses yang dilalui. Sayangnya proses ini sama sekali tidak dihargai; siswa tidak pernah dinilai seberapa keras dia berusaha melalui proses. Melainkan hanya semata-mata ditentukan oleh ujian akhir. Keseharian siswa dalam belajar tidak ada nilainya, jadi wajar saja apa bila suatu ketika ada siswa yang berkata bahwa yang penting ujian akhir bisa, gak perlu masuk setiap hari.

2. Sistem yang hanya mengajari anak untuk menghafal bukan belajar dalam arti sesunguhnya
Apa beda belajar dengan menghafal; Produk dari sebuah pembelajaran kemampuan atau keahlian yang dikuasai terus menerus. Contoh yang paling sederhana adalah pada saat anak belajar sepeda. Mulai dari tidak bisa menjadi bisa, dan setelah bisa ia akan bisa terus sepanjang masa. Sementara produk dari menghafal adalah ingatan jangka pendek yang dalam waktu singkat akan cepat dilupakan. Perbedaan lain bahwa belajar membutuhkan waktu lebih panjang sementara menghafal bisa dilakukan hanya dalam 1 malam saja. Padahal pada hakekatnya Manusia dianugrahi susunan otak yang paling tinggi derajadnya dibanding mahluk manapun didunia. Fungsi tertinggi dari otak manusia tersebut disebut sebagai cara berpikir tingkat tinggi atau HOT; yang direpresentasikan melalui kemampuan kreatif atau bebas mencipta serta berpikir analisis-logis; sementara fungsi menghafal hanyalah fungsi pelengkap. Keberhasilan seorang anak kelak bukan ditentukan oleh kemampuan hafalannya melainkan oleh kemampuan kreatif dan berpikir kritis analisis.

3. Sistem sekolah yang berfokus pada nilai
Nilai yang biasanya diwakili oleh angka-angka biasanya dianggap sebagai penentu hidup dan matinya seorang siswa. Begitu sakral dan gentingnya arti sebuah nilai pelajaran sehingga semua pihak mulai guru, orang tua dan anak akan merasa rasah dan stress jika melihat siswanya mendapat nilai rendah atau pada umumnya dibawah angka 6 (enam).

Setiap orang dikondisikan untuk berlomba-lomba mencapai nilai yang tinggi dengan cara apapun tak perduli apakah si siswa terlihat setangah sekarat untuk mencapainya. Nyatanya toh dalam kehidupan nyata, nilai pelajaran yang begitu dianggung-anggungka n oleh sekolah tersebut tidak berperan banyak dalam menentukan sukses hidup seseorang. Dan lucunya sebagian besar kita dapati anak yang dulu saat masih bersekolah memiliki nilai pas-pasan atau bahkan hancur, justru lebih banyak meraih sukses dikehidupan nyata.

Mari kita ingat-ingat kembali saat kita masih bersekolah dulu; betapa bangganya seseorang yang mendapat nilai tinggi dan betapa hinanya anak yang medapat nilai rendah; dan bahkan untuk mempertegas kehinaan ini, biasanya guru menggunakan tinta dengan warna yang lebih menyala dan mencolok mata.

Sementara jika kita kaji lagi; apakah sesungguhnya representasi dari sebuah nilai yang diagung-agungkan disekolah itu…? Nilai sesungguhnya hanyalah representasi dari kemampuan siswa dalam “menghapal” pelajaran dan terkadang ada juga “subjektifitas” guru yang memberi nilai tersebut terhadap siswanya.

Meskipun kerapkali guru menyangkalnya, cobalah anda ingat-ingat; berapa lama anda belajar untuk mendapatkan nilai tersebut; apakah 3 bulan…? 1 bulan..? atau cukup hanya semalam saja..? Kemudian coba ingat-ingat kembali, jika dulu saat bersekolah, ada diantara anda yang pernah bermasalah dengan salah seorang guru; apakah ini akan mempengaruhi nilai yang akan anda peroleh..?

Jadi mungkin sangat wajar; meskipun kita banyak memiliki orang “pintar” dengan nilai yang sangat tinggi; negeri ini masih tetap saja tertinggal jauh dari negara-negara maju. Karena pintarnya hanya pintar menghafal dan menjawab soal-soal ujian.

4. Sistem pendidikan yang Seragam-sama untuk setiap anak yang berbeda-beda
Siapapun sadar bahwa bila kita memiliki lebih dari 1 atau 2 orang anak; maka bisa dipastikan setiap anak akan berbeda-beda dalam berbagai hal. Andalah yang paling tahu perbedaan-perbedaan ya. Namun sayangnya anak yang berbeda tersebut bila masuk kedalam sekolah akan diperlakukan secara sama, diproses secara sama dan diuji secara sama.

Menurut hasil penelitian Ilmu Otak/Neoro Science jelas-jelas ditemukan bahwa satiap anak memiliki kelebihan dan sekaligus kelemahan dalam bidang yang berbeda-beda. Mulai dari Instingtif otak kiri dan kanan, Gaya Belajar dan Kecerdasan Beragam. Sementara sistem pendidikan seolah-oleh menutup mata terhadap perbedaan yang jelas dan nyata tersebut yakni dengan mengyelenggaraan sistem pendidikan yang sama dan seragam. Oleh karena dalam setiap akhir pembelajaran akan selalu ada anak-anak yang tidak bisa/berhasil menyesuaikan dengan sistem pendidikan yang seragam tersebut.

5. Sekolah adalah Institusi Pendidikan yang tidak pernah mendidik
Sekilas judul ini tampaknya membingungkan; tapi sesungguhnya inilah yang terjadi pada lembaga pendidikan kita.

Apa beda mendidik dengan mengajar…?

Ya.. tepat!, mendidik adalah proses membangun moral/prilaku atau karakter anak sementara mengajar adalah mengajari anak dari tidak tahu menjadi tahu dan dari tidak bisa menjadi bisa.

Produk dari pengajaran adalah terbangunnya cara berpikir kritis dan kreatif yang berhubungan dengan intelektual sementara produk dari pendidikan adalah terbangunnya prilaku/akhlak yang baik.

Ya..! memang betul dalam kurikulum ada mata pelajaran Agama, Moral Pancasila, Civic dan sebagainya namun dalam aplikasinya disekolah guru hanya memberikan sebatas hafalan saja; bukan aplikasi di lapangan. Demikian juga ujiannya dibuat berbasiskan hafalan; seperti hafalan butir-butir Pancasila dsb. Tidak berdasarkan aplikasi siswa dilapangan seperti praktek di panti-panti jompo; terjun menjadi tenaga sosial, dengan sistem penilaian yang berbasiskan aplikasi dan penilaian masyarakat (user base evaluation).

Bayangkan pernah ada suatu ketika sebuah sekolah SD yang gedungnya bersebelahan dengan rumah penduduk, dan saat itu mereka sedang belajar tentang pendidikan moral, sementara persis di sebelah sekolah tersebut sedang ada yang meninggal dunia, namun anehnya tak ada satupun dari sekelah tersebut yang datang mengirim utusan untuk berbela sungkawa di rumah tersebut. Alih-alih sekolahnya malah ribut sehingga ketua RW setempat sempat menegur pihak sekolah atas kejadian tersebut.

Mungkin wajar saja jika anak-anak kita tidak pernah memiliki nilai moral yang tertanam kuat di dalam dirinya; melainkan hanya nilai moral yang melintas semalam saja dikepalanya dalam rangka untuk dapat menjawab soal-soal ujian besok paginya.

Artikel ini di ambil dari Tulisan Dr. Thomas Amstrong, pemerhati dan praktisi Pendidikan Berbasis Multiple Intelligence dari AS, yang dibuat sekitar tahun 1990an dan telah disesuaikan dengan konteks Indonesia saat ini.

Mari kita renungkan bersama dengan hati dan nurani kita yang terdalam dan mari kita ambil hikmahnya.

Sumber: Buku Ayah Edy; Judul: I love you Ayah, Bunda; Penerbit: Hikmah, Mizan Group
– diambil dari milist sebelah –

Kategori:Uncategorized

Belajar

16 November, 2009 Tinggalkan komentar

belajar Belajar merupakan hal yang wajib kita lakukan, karena pada kenyataannya kita belajar setiap hari di kehidupan ini. Menuntut ilmu merupakan bagian dari belajar, maka sudah selayaknya kita sebagai manusia harus belajar atau menuntut ilmu, seperti kata pepatah ; ‘tuntutlah ilmu dari buaian sampai keliang lahat’. Manusia bisa berkembang sedemikian maju karena proses belajar dari sejak nenek moyang atau orangtua kita terdahulu, terus menerus mencari perubahan atau inovasi terbaru untuk perkembangan peradaban manusia. Menurut WS. Winkel belajar adalah :

“Suatu aktivitas mental/psikis, yang berlangsung dalam interaksi aktif dengan lingkungan, yang menghasilkan sejumlah perubahan dalam pengetahuan, pemahaman, keterampilan dan nilai – sikap. Perubahan itu bersifat relatif konstan dan berbekas,” )

Dengan adanya perubahan dalam pola prilaku, hal ini menandakan telah mengalami proses belajar, tentunya harus disertai dengan kesadaran pada diri sendiri bahwa kita sedang belajar. Elizabeth Hurlock berpendapat bahwa : “Belajar adalah perkembangan yang berasal dari latihan dan usaha. Melalui belajar, anak memperoleh kemampuan menggunakan sumber yang diwariskan.” )
Belajar yang efektif adalah belajar yang menggunakan seluruh alat indra sehingga mendapat hasil yang optimal. Contohnya; ketika siswa akan belajar tentang bidang studi sejarah, maka cara belajar yang efektif adalah dengan cara melihat atau mengamati pelajarannya. Mulut membaca (mengulang bacaannya), telinga mendengarkan, dan tangan menulis rangkuman dengan kata-kata sendiri atau mengerjakan latihan pelajaran pelajaran yang sedang dipelajari. Sehingga pelajaran tersebut tidak mudah lupa dan pelajaran itu juga dapat mudah dipahami dengan baik. Bukan dengan cara menghapal pelajaran yang pada akhirnya akan cepat lupa. Karena ciri khas dari hasil belajar/kemampuan yang diperoleh adalah jika seseorang dapat merumuskan kembali pengetahuan yang dimiliki dengan kata-kata sendiri. Karena pada kenyataannya kita belajar 10% dari apa yang kita baca, 20% dari apa yang kita dengar, 30% dari apa yang kita lihat, 50% dari apa yang kita lihat dan dengar, 70% dari apa yang kita katakan, dan 90% dari apa yang kita katakan dan lakukan.
Menurut Andreas Harefa yang diuraikan oleh Baban Sarbana dan Dina Diana belajar adalah :
Proses menemukan pengetahuan baru dan bersifat permanen, dan belajar dibedakan menjadi :1) belajar tentang, 2) belajar dengan:
– Belajar tentang, menyangkut pengetahuan, contoh; belajar tentang komputer adalah belajar mengenai segala sesuatu yang berhubungan dengan komputer, baik program, software, hardware, harga dan lain-lain.
– Belajar dengan, berhubungan dengan keterampilan, contoh; belajar dengan komputer adalah menjadikan komputer sebagai sarana belajar. )

Begitu pula dengan Zainudin Arif yang menyatakan bahwa belajar adalah : “Merupakan suatu proses dari dalam yang di kontrol langsung oleh peserta sendiri serta melibatkan dirinya, termasuk fungsi intelek, emosi dan fisiknya.” )
Sedangkan menurut James Wittaker yang dikutip oleh Wasty Soemanto menyatakan : “Belajar dapat di definisikan sebagai proses dimana tingkah laku di timbulkan atau diubah melalui latihan atau pengalaman.” )
Perubahan akibat belajar akan bertahan lama, bahkan sampai taraf tertentu, tidak akan menghilang lagi. Kemampuan yang telah di peroleh, menjadi milik pribadi yang tidak akan pupus begitu saja. Belajar merupakan kegiatan mental yang tidak dapat dilihat dari luar, maksudnya apa yang sedang terjadi dalam diri seseorang yang sedang belajar, tidak dapat diketahui secara langsung hanya dengan mengamati orang itu, tanpa orang itu melakukan sesuatu yang menampakkan kemampuan yang diperoleh melalui belajar.
Dapat dikatakan juga bahwa belajar menghasilkan perubahan yang meliputi hal-hal yang bersifat internal seperti pemahaman dan sikap, serta mencakup hal-hal yang bersifat eksternal seperti keterampilan motorik dan berbicara dalam bahasa asing. Yang bersifat internal tidak dapat langsung diamati, sebaliknya yang bersifat eksternal dapat diamati.
Dengan kata lain orang yang belajar akan mengalami perubahan kearah yang positif, baik itu dalam kemampuan di bidang kognitif, afektif, maupun psikomotornya.

Kategori:Uncategorized

Pendidikan untuk Semua, Benarkah?

30 April, 2009 Tinggalkan komentar

Dalam UUD 1945 dituliskan bahwa pendidikan adalah hak bagi semua warga negara, berarti setiap warga negara RI harus terdidik dan mendapatkan pendidikan yang memenuhi standar yang telah ditentukan. Tentunya pendidikan bagi semua elemen masyarakat banyak faktor yang akan melatar belakangi dan membuatnya terlaksana, seperti apa kualitasnya, seperti apa orang-orang didalamnya dan bagaimana kualitas dari out put pendidikan itu.

Kita tahu bahwa ada banyak definisi pendidikan. Ini jelas menunjukkan bahwa pendidikan dipandang sebagai hal yang sangat penting, sehingga banyak pihak yang merasa perlu untuk memberikan definisi — pengertian atau memaknainya. Pendidikan menurut pengertian Yunani adalah pedagogik, yaitu : ilmu menuntun anak. Orang Romawi melihat pendidikan sebagai educare, yaitu mengeluarkan dan menuntun, tindakan merealisasikan potensi anak yang dibawa waktu dilahirkan di dunia. Bangsa Jerman melihat pendidikan sebagai Erziehung yang setara dengan educare, yakni : membangkitkan kekuatan terpendam atau mengaktifkan kekuatan/potensi anak. Dalam bahasa Jawa, pendidikan berarti panggulawentah (pengolahan – Red), mengolah, mengubah kejiwaan, mematangkan perasaan, pikiran, kemauan dan watak, mengubah kepribadian sang anak.

Dari sisi manajemen pendidikan terdapat beberapa hal penting yang harus diperhatikan dalam sistem pendidikan. Ada banyak pihak yang terkait dalam sistem ini, mereka adalah Kepala Sekolah, guru-guru, karyawan, siswa, pemilik sekolah, pemerintah, orang tua siswa, perusahaan (sektor swasta), Lembaga Swadaya Masyarakat, masyarakat umum dan lingkungan. Selain itu ada banyak prosedur yang harus dijalankan. Tertumpahnya semua pihak terkait dalam sistem pendidikan harus diantisipasi dengan sistem tata laksana yang baik. Dengan demikian maka dibutuhkan banyak sekali prosedur agar semua skala prioritas dan penyebaran pendudukan kepentingan dari berbagai pihak dapat tertata dengan baik. Ada banyak tuntutan yang harus dipenuhi, seperti prinsip keseimbangan hanya akan terjadi bila kepuasan akan terakomodasi. Untuk di Indonesia, persoalan tawuran pelajar, narkoba, seks bebas dan sebagainya kemungkinan besar adalah bermula dari ketidakseimbangan pengakomodasian kebutuhan kepuasan dari pihak terkait.

Logikanya, kualitas pendidikan akan berbanding lurus dengan pendanaan. Semakin tinggi pendanaan pendidikan tentunya outputnya akan semakin baik. Permasalahannya, apakah saat ini semua masyarakat Indonesia memiliki cukup dana untuk pendidikan? Kesenjangan dan kondisi perekonomian Indonesia saat ini ternyata tidak memungkinkan semua warganya mendapat pendidikan yang layak. Hal ini dapat diartikan bukan hanya pada kesanggupan sebagian warga Indonesia untuk belajar di sekolah – membayar SPP dan lainnya – tetapi ada sebagian kalangan yang lebih memikirkan kepada apa yang akan saya makan bila waktu saya dipakai ke sekolah. Hal ini wajar karena memang dalam kehidupan mereka bila mereka tidak bergiat mencari nafkah maka mereka tidak mendapat sesuatu untuk dimakan, sedangkan makan adalah aktivitas utama manusia dimana bila manusia tidak makan maka ia tidak bisa bertahan hidup. Karenanya banyak kita lihat anak usia sekolah yang seharusnya sedang nyaman di bangku sekolah tapi malahan berada di jalan atau tempat lain yang tidak semestinya bagi mereka karena mereka harus mencari makan agar bisa bertahan hidup. Lalu, apakah pendidikan bagi semua warga negara hanya merupakan slogan belaka? Atau hanya sebuah hiasan indah Undang-Undang agar negara tetangga memandang kita sebagai negara yang bermartabat?

Semua elemen bangsa seharusnya menyadari masalah ini, dan merasa bersyukur bagi mereka yang telah dapat mengenyam pendidikan secara layak atau bahkan mungkin berlebih, karena itulah fenomenanya, ada kesenjangan juga dalam pendidikan. Ada anak orang berada yang selain bersekolah, ia juga mengikuti berbagai les atau kursus untuk menambah pengetahuannya. Sedangkan disisi lain ada anak yang sama sekali tak pernah bersekolah atau merasakan manisnya pendidikan. Rasa syukur kita karena telah terdidik sebaiknya diwujudkan dalam bentuk cinta yang nyata bagi mereka yang selama ini tidak pernah merasakan nikmat pendidikan seperti yang anda rasakan. Bagi kita yang beruntung dapat merasakan pendidikan mari kita menyumbangkan sebagian rizki yang kita miliki untuk mereka yang selama ini tidak dapat bersekolah, donasi anda dapat berupa uang, material, ataupun kerja.

Bagi pemerintah, tentunya tidak dapat menutup mata akan kondisi ini. Pemerintah perlu menggarap sebuah konsep ideal bagi terciptanya pendidikan yang adil dan merata bagi semua kalangan di Indonesia. Tentunya dilakukan dengan kerjasama dengan instansi pemerintah lainnya dan atau dengan lembaga swadaya masyarakat yang concern menangani masalah ini. Juga pelunya peralatan perundangan yang menunjang dan dapat mendukung terselenggaranya pendidikan bagi semua. Mari kita coba mewujudkan pendidikan yang merata bagi semua anak Indonesia agar masa depan Indonesia dapat lebih baik.

Alfa, akhir April 2009

Kategori:Uncategorized

Pecinta Alam dan Akulturasi Pendidikan Berbasis Komunitas Adat

15 April, 2009 1 komentar

Pendidikan merupakan barang yang cukup mahal di negeri ini, ditambah seringkali proses pendidikan tersebut diterjemahkan dalam terminologi yang sempit, batasan formalitas berupa kurikulum dan sisten yang tidak pernah stabil dan hanya menghasilkan produk manusia bergelar tanpa bingkai etika, skill kemampuan menata kehidupan social dengan arif dan bijaksana. Hal ini lebih banyak kita temukan pada jenjang sekolah dari tingkat dasar sampai menengah di Indonesia. Secara peruntukan dan kewilayahan, daya dukung yang besar terhadap pendidikan hanya dapat diperoleh golongan dengan kemampuan ekonomi yang mapan atau masyarakat modern yang berada di kota – kota besar atau dekat dengan pusat pemerintahan.

Wilayah geografis Indonesia yang begitu variatif membuat masyarakat Indonesia tersebar luas di pelosok Sabang sampai dengan Merauke, tidak hanya di Kota Besar, sebagian dari penduduk Indonesia masih banyak yang tinggal pada daerah dengan kondisi alam yang menantang, di bukit, pegunungan, pesisir pantai sampai di belantara hutan. Mereka yang berada pada situasi dan kondisi seperti itu biasanya memiliki banyak keterbatasan akses baik ekonomi, sosial, pendidikan maupu informasi. Mereka sering menjadi komunitas yang termarjinalkan, dalam pendidikan misalnya, mereka dianggap sebagai kumpulan orang – orang primitif yang tidak berbudaya dan bodoh. Akan banyak kita temui hal tersebut bila mendengar atau melihat tentang kondisi kehidupan suku – suku yang ada di pedalaman Indonesia, nasib pendidikan mereka mungkin hampir tidak terpikirkan oleh pemerintah. Hal ini dapat terlihat jarangnya atau bahkan tidak ada sekolah – sekolah yang beroperasi di daerah pedalaman.

Masyarakat yang tinggal di daerah pedalaman tersebut biasanya akan membentuk komunitas sendiri dalam bentuk suku – suku yang memiliki ada istiadat khas untuk setiap wilayah. Kita mengenal di Jambi ada suku anak dalam, di jawa Barat terdapat suku baduy atau di pedalaman Irian da masyarakat yang masih menggunakan koteka sebagai pakaian kesehariannya. Kebanyakan orang mungkin menganggap mereka primitive dan tak berbudaya, padahal kenyataan mengatakan sebaliknya. Kesan terasing dari peradaban justru memberikan kelebihan tersendiri bagi mereka dalam bentuk kearifan tradisional. Kearifan tradisional ini membentuk tiga karakter penting bagi komunitas adat tersebut terhadap alam yang ditempatinya, yaitu: pertama, nilai religius dan etika sosial yang mendasari praktek – praktek pemanfaatan sumber daya alam hayati, Kedua, Norma dan aturan adat yang mengaur hubungan antara komunitas dan lingkungan alamnya, Ketiga, pengetahuan local dan empirik selama berpuluh – puluh bahkan ratusan tahun yang dijadikan dasar dalam pengelolaan sumber daya alam hayatinya. Ketiga karakter tersebutlah yang melandasi tatanan kehidupan sosial, budaya dan politik mereka.

Hal di atas membuktikan bahwa tidak sepenuhnya benar pandangan kebanyakan orang bahwa komunitas adat adalah sebuah kumpulan manusia tanpa keteraturan dan budaya. Kenyataan justru berkata sebaliknya, banyak kita temui hari ini bahwa penyumbang terbesar kerusakan alam dan eksploitasi besar – besaran Sumber Daya Alam adalah mereka yang dikatakan sebagai manusia modern yang berpendidikan tinggi, jauh api dari panggang. Pendidikan modern dengan menciptakan strata sosial dalam masyarakat ternyata hanya mampu melahirkan pribadi dengan etika dan sense belonging yang rendah. Kemajuan Teknologi hanya dimaknai sebagai proses modernisasi alat dan material dalam pendidikan, tanpa diimbangi dengan terminologi sebagai sebuah kesatuan proses dan sistem yang mampu membentuk Manusia Cerdas dan Berbudaya.

Komunitas adat dengan segala dinamikanya merupakan kekayaan bangsa yang harus dijaga dan dilestarikan untuk menjadi daya dukung bagi lestarinyan ala mini. Penerataan pendidikan adalah sebuah keniscayaan yang menjadi hak warga Negara Indonesia dimanapun berada. Pemerintah seharusnya bertanggung jawab memberikan sentuhan pendidikan yang menyesuiakan dengan potensi local, tidak melulu menjadikan Ujan |Akhir Nasional atau berbagai perangkat formalitas lainnya sebagai standar yang disama ratakan di semua wilayah.

Kemajuan akan diperoleh dan nasib pendidikan dan peningkatan kualitas kehidupan sosial komunitas adat akan terwujud dengan sebuah aksi nyata, tanpa harus menunggu kebijakan dari pemerintah atau pihak terkait yang terkadang terlalu penuh dengan birokrasi. Program Pendidikan untuk masyarakat pedalaman haruslah memperhatikan potensi lokal serta potensui Sumber Daya Alam yang dimilki, karena alam merupakan sumber bahan ajar yang tidaka akan habis dan selalu memberikan realita bukan hanya teori belaka. Selain sumber ajar atau bahan ajar, tentu saja perangakat pendidikan yang penting jga yaitu adanya faslitator atau pendidik. Pendidik untuk masyarakat pedalaman akan lebih tepat bila diperankan oleh komunitas yag dekat dengan alam dan memahami kehidupan di alam. Adalah seoraang Butet Manurung yang telah membuktikan pengabdiannya selama 4 tahun di tengah rimab belantara Bukit Tujuh Belas Jambi, Sumatera Timur.

Seorang Butet Manurung telah berhasil mendirikan dan menjalankan sebuah Sekolah Rimba, sebagai Sekolah Alternatif yang diperuntukkan bagi anak – anak suku setempat. Berawal dari seorang pecinta alam yang suka melakukan penjelajahan kea lam untuk membuktikan diri sebagai pemberani, hingga akhirnya dipertemukan dengan sebuah fenomena adanya komunitas anak – anak kecil di suku anak dalam dengan kehidupan yang unik. Kendala bahasa dan informasi menjadikan anak – anak tersebut dan sebagian suku anak dalam tidak tersentuh kemajuan zaman, justru sebaliknya menjadi korban dari kemajuan teknologi. Mereka hanyalah dianggap sebagai kaum yang bodoh dan primitif serta mengganggu proses eksploitasi alam yang dilakukan oleh orang – orang yang tidak bertanggung jawab. Kenyataan itulah yang menjadikan Butet Manurung memutuskan untuk mengabdikan dirinya, beralih dari hanya sekedar pecinta alam menjadi seorang pecinta alam sekaligus pendidik yang berjiwa alam. Beliau mlihat adanya potensi kearifan yang dimiliki oleh masyarakat tersebut, sehingga membuat sarjana Bahasa Indonesia dan Antropologi UNPAD itu mengajarkan cara – cara berkomunikasi yang baik dengan metode silabel, sebuah metode yang diolah oleh Butet agar anak – anak tersebut dapat memahami Bahasa Indonesia.

Bukanlah hal yang mudah memang, tetapi melalui kegigihannya selama 4 tahun, beliau berhasil mewujudkan impiannya menjadikan anak – anak tersebut dapat membaca, berkomunikasi dan menghitung dengan baik. Prinsipnya adalah bagaimanana hobi yang digelutinya yaitu menjelajah alam tidak hanya bermanfaat bagi dirinya semata, tetapi juga bagi orang lain di sekitarnya. Butet Manurung mengakui bahwa pendekatan pendidikan yang diberikan untuk anak – anak di suku pedalaman seperti itu tidak dapat menggunakan pendekatan layaknya orang kota belajar. Seperti apa yang pernah dialaminya ketika sedang mengajar anak – anak, tiba – tiba datanglah seekor Beruang dengan anaknya, lalu naiklah Butet ke atas pohon. Sedangkan anak – anak didiknya justru memanahnya, mungkin menurut pandangan Butet atau kebanyakan orang itu salah, tapi bagi aturan adat setempat hal tersebut dianggap sebagai rezeki dari dewa mereka. Pengalaman tersebut menambah sebuah pemahaman bagi Butet bahwa pendidikan yang baik harus menyesuiakan dfengan keadaan local masyarakatnya. Melalui Komunitas SOKOLA Rimbanya Butet terus berusaha untuk menghadirkan pengeahuan modern yang ramah dengan metomemperhatikan komunitas adat setempat.

Pendidikan berbasis budaya adat setempat merupakan sebuah keniscayaan yang dapat diwujudkan, karena telah banyak bukti yang mendukungnya. Kerja budaya terbagi ke dalam beberapa prinsip dasar yaitu: pendidikaan harus membumi, menguntungkan, diorganisasi secara lokal, menumbuhkan kesadaran akan kebudayaan, memberikan keyakinan siapa dirinya dan mau jadi apa dirinya kelak (Aat Suratin, jugaguru.com). Artinya hal tersebut sangat mungkin diwujudkan dengan terlebih dahulu adanya pengenalan akan budaya setempat serta seorang pendidik yang siap secara kognitif dan berjiwa alam.

Peran strategis ini sangat tepat jika dijalankan oleh komunitas pecinta alam, walaupun tidak menutup kemungkinan elemen masyarakat lainnya. Pecinta alam merupakan orang – orang yang memiliki jiwa keberanian yang lebih tinggi dibandingkan kebanyakan orang umumnya. Keinginan mereka adalah menggapai ketimggian atau menjelajah pedalaman yang belum mungkin dijangkaun oleh kebanyakan orang. Latar belakang merekapun biasanya beragam dan lintas bidang, ada yang dari sains, ahl bahasa, anropologi, sosiologi, dan banyak bidang lainnya. Artinya wilayah pecinta ala mini dapat diisi oleh siapapun dengan berbagai latar belakang profesi. Keunikan inilah yang sebenarnya dapat diberdayakan dan diarahkan untuk berbagi pengetahuan dan mendidik masyarakat yang berada di wilayah pedalaman. |Jadi, tidak hany sekedar pecinta alam yang mempunyai cita – cita singkat hany mencapai ketinggian dan bermain – main saja tanpa diiringi dengan kemuliaan tujuan social.

Seorang Butet Manurung dengan keahlian bahasanya dapat mengajarkan mengenai bahasa, mungkin pecinta alam lain dengan latar belakang sains misalnya, dapat mengajarkan anak – anak di suku pedalaman tentang pengetahuan popular sains. Hal tersebut sangat memungkinkan bagi mereka, karena sains itu sangat dekat dengan alam (contohnya pelajaran IPA), mereka dapat belajar lebih aplikatif dibandingkan dengan anak – anak di wilayah perkotaan yang jauh dari gunung, bukit atau hutan. Seorang pendidik di alam bukan hanya sebagai guru, tapi sekaligus juga sebagai sahabat belajar yang bersama menimba ilmu, karena umumnya masyarakat pedalaman tersebut telah memiliki teknologi mengolah alam yang sangat unik yang mungkin belum pernah kita temui sebelumnya, walaupun hal tersebut ada dalam konep teoritis. Contohnya ada di sebuah daerah pedesaan yang tidak terjangkau listrik, masyarakatnya sudah dapat menikmati lampu dengan menggunakan teknologi sederhana Pembangkit Listrik Tenaga Air yang diletakkan di aliran sungai yang deras, berbeda jauh dengan pembangkit listrik yang sudah berskala canggih.

Harapan untuk tercapainya model pendidikan yang ideal untuk masyarakat pedalaman di kawasan Indonesia tidaklah mungkin dapat diwujudkan dari prakarsa orang perorang, tapi harus dengan sebuah sinergi. Para pecinta alam dengan latar belakang yang beragam tersebut dapat membentuk sebuah Komunitas Pecinta alam Plus yang doisertai dengan kegiatan sosial dan edukasi untuk masyarakat. Selain apa yang telah dilakukan oleh Komunitas SOKOLA Butet, kita pernah juga mendengar nama Wanadri, Yayasan Pribumi dengan program ‘Ranger Kampungnya’ sebagai usaha pendidikan Konservasi, atau Konservasi Alam Nusantara (KONUS) dengan program Kelompok Konservasi Sekolahnya. Hal ini seharusnya dapat menjadi perhhatian berbagai pihak tentang pentingnya kepedulian kita, tidak hanya LSM tetapi juga pemerintah sebagai pihak pembuat kebijakan maupun elemen lainnya untuk melihat sisi penting pemerataan pendidikan hingga ke masyarakat pedalaman, sebuah model pendidikan yang menyenangkan untuk anak – anak tersebut, pendidikan yang mengajarkan bagiamana alam memberikan ruang yang luas untuk belajar dengan tetap memperhatika Keaslian Komunitas ada setempat.

Seorang pakar pendidikan pernah mengatakan, ‘orang lokal mengejar mimpi dan mewujudkan mimpi itu, sedangkan orang kota tidak demikian’.Di esok hari kita berharap dapat menemukan model pecinta alam lainnya yang menjadi ‘pahlawan tanpa tanda jasa’ di daerah pedalama , jauh dari pujian dan pangkat.

Mengutip pernyataan dari Presiden SBY pada Majalah Times edisi Oktober 2005: “Every society need heroes,and every society has them,The reason, we don’t often see them is because we don’t bother to look to them”. Sebuah pujian yang diberikan untuk seorang Butet Manurung dan para pahlawan pendidikan lainnya. (alfa)

TIK untuk Pendidikan yang Lebih Baik

13 Maret, 2009 Tinggalkan komentar

TIK untuk Pendidikan yang Lebih Baik

Oleh: Alfa Saputra

 

Seiring bergulirnya perkembangan teknologi dan informasi yang kian mengglobal maka kebutuhan akan penggunaan Information Communication Technology (ICT) atau Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) kian marak dan merambah sampai dunia pendidikan. TIK adalah jawaban alternatif akan permasalahan pendidikan yang ada di masyarakat. Keterbatasan dalam penyampaian dan media akan dapat ditanggulangi dengan penggunaan TIK. Berdasarkan berbagai penelitian proses belajar mengajar dengan bantuan alat peraga telah berhasil meningkatkan efisiensi belajar sebesar 47 %, sedangkan dengan dukungan TIK bisa meningkatkan efisiensi sebesar 93 %.

Perkembangan pendidikan berbasis TIK bergantung pada infrastruktur dan budaya TIK di masyarakat. Dalam kerangka itu, langkah pertama untuk pendidikan berbasis TIK adalah pendidikan berbasis komputer. Pada tahap ini, komputer digunakan untuk mengatur dan melaksanakan interaksi proses pendidikan. Selanjutnya, digunakan untuk pembelajaran berbantukan komputer dengan program tutorial dan  simulasi sebagai program yang berdiri sendiri untuk pembelajaran mahasiswa. Pendidikan e-supported menawarkan penggunaan TIK dengan LAN yang digunakan untuk skop yang lebih besar seperti database siswa, database perpustakaan, database aministrasi, e-learning. dll.

Berbagai model telah dikembangkan dalam penerapan TIK dalam pendidikan, seperti; e-learning, Jaringan Informasi Sekolah (JIS), Wide Area Network (WAN), Local Area Network (LAN) & TIK Center. Model-model yang ada masih dapat dikombinasikan dengan model-model pendidikan lain, seperti; kelas jauh, home schooling, SMP Terbuka, TKB Mandiri dll.

Tentunya penggunaan TIK dalam pendidikan harus juga mempersiapkan komponen-komponen pendukung dari sistem TIK, yakni, hardware, software dan brainware. Pemerintah memberikan perhatian serius terhadap pemanfaatan TIK dalam dunia pendidikan karena salah satu target yang harus dicapaipada tahun 2015 berdasarkan kesepakatan  World Summit on The Information Society (WSIS) ke-2 di Tunisia tahun 2005 lalu adalah semua sekolah harus sudah memilki sistem informasi yang terintegrasi. Hal yang senada juga diungkapkan dalan kebijakan TIK untuk Pendidikan Nasional, yakni; pemanfaatan TIK untuk pemerataan dan perluasan akses, pendayagunaan TIK untuk meningkatkan mutu relevansi dan daya saing, serta pendayagunaan TIK untuk penguatan tata kelola, akuntabilitas dan pencitraan publik.

Seiring dengan kebutuhan akan metode pembelajaran yang lebih efektif dan efisien, pemanfaatan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) untuk pendidikan adalah suatu keniscayaan. Penelitian tentang Intelligent Tutoring System (ITS), Computer Based Training (CBT), eLearning System adalah bukan barang baru, dan saat ini telah menuju ke implementasi riil dalam proses belajar mengajar. Dari berbagai sumber dikatakan bahwa ada 3 skenario pembelajaran TIK, yakni:

1.      TIK sebagai objek pembelajaran,

2.      TIK sebagai alat pembelajaran,

3.      TIK sebagai media pembelajaran.

Langkah pertama untuk pendidikan berbasis TIK adalah pendidikan berbasis komputer. Komputer telah diterapkan dalam pembelajaran mulai 1960 (Lee, 1996). Dalam empat puluh tahun pemakaian komputer ini ada berbagai periode kecenderungan yang didasarkan pada teori pembelajaran yang ada. Periode yang pertama adalah pembelajaran dengan komputer dengan pendekatan behaviorist. Periode ini ditandai dengan pembelajaran yang menekankan pengulangan dengan metode drill dan praktek. Periode yang berikutnya adalah periode pembelajaran komunikatif  sebagai reaksi terhadap behaviorist. Penekanan pembelajaran adalah lebih pada pemakaian bentuk-bentuk tidak pada bentuk itu sendiri seperti pada pendekatan behaviorist. Periode atau kecenderungan yang terakhir adalah pembelajaran dengan komputer yang integratif. Pembelajaran integratif memberi penekan pada pengintegrasian berbagai keterampilan yang diintegrasikan oleh teknologi secara lebih penuh pada pembelajaran.

Lee merumuskan paling sedikit ada delapan alasan pemakaian komputer sebagai media pembelajaran (Lee, 1996) Alasan-alasan itu adalah: pengalaman, motivasi, meningkatkan pembelajaran, materi yang otentik, interaksi yang lebih luas, lebih pribadi, tidak terpaku pada sumber tunggal, dan pemahaman global.

Dengan tersambungnya komputer pada  jaringan internet maka pembelajar akan mendapat pengalaman yang lebih luas. Pembelajar tidak hanya menjadi penerima yang pasif melainkan juga menjadi penentu pembelajaran bagi dirinya sendiri. Pembelajaran dengan komputer akan memberikan motivasi yang lebih tinggi karena komputer selalu dikaitkan dengan kesenangan, permainan dan kreativitas. Dengan demikian pembelajaran itu sendiri akan meningkat.  Seperti yang dikatakan oleh Richmond  (1999) dan  Stevens, (1992) materi on-line tidak hanya sebagai materi rujukan yang lebih efisien tetapi lebih efektif  sebagai sumber kogninif. Contohnya, definisi kata yang tidak diketahui saat mengerjakan tugas, mahasiswa hanya tinggal mengklik kamus on-line atau ensiklopedia dengan kata sesuai konteks, Aktivitas ini merupakan sumber kognitif yang dapat digunakan untuk memperoleh kembali informasi yang dikumpulkan dari sumber-sumber lain.

Pembelajaran dengan komputer akan memberi kesempatan pada pembelajar untuk mendapat materi pembelajaran yang otentik dan dapat berinteraksi secara lebih luas. Pembelajaran pun menjadi lebih bersifat pribadi yang akan memenuhi kebutuhan strategi pembelajaran yang berbeda-beda. Dan saat ini banyak institusi pendidikan di Indonesia berlomba-lomba ke arah pemanfaatan TIK untuk pendidikan, membangun infrastruktur hardware, jaringan internet, pengadaan software, dsb. Sayangnya sedikit yang melupakan masalah pengembangan kontennya sendiri.

Padahal kegiatan inilah (pembangunan konten) yang sebenarnya lebih memerlukan kerja keras dan waktu yang sangat lama karena berhubungan dengan pembentukan behavior dan kreatifitas sumber daya manusia. Sivitas akademika, dimana pengajar (guru) sebagai jantung proses pembelajaran harus disiapkan supaya memiliki kemampuan (skill) dan kreatifitas (creativity) mengembangkan konten media presentasi dan pembelajaran yang menarik, interaktif, dan berdasar kurikulum yang benar.

Adapun tujuan dari penyusunan konten ini adalah:

1.      Mempersiapkan pengajar dan seluruh sivitas akademi yang tertarik dengan media pembelajaran berbasis TIK, dalam pengembangan konten media presentasi dan pembelajaran interaktif, dengan melatih dan mendidik mereka tentang metode dan teknik pembuatan media presentasi dan pembelajaran berbasis TIK,

2.      Mempersiapkan behavior seluruh sivitas akademika institusi pendidikan dalam e-lifestyle, sehingga lebih siap menyambut era masuknya TIK dalam pendidikan,

3.      Mengembangkan komunitas pembelajaran dimana setiap orang yang tertarik dengan media pembelajaran berbasis TIK dapat saling belajar, berbagai pengetahuan, dan mempublikasikan hasil-hasil karya berupa media presentasi dan pembelajaran interaktif, sehingga bias dimanfaatkan rekan-rekan lain di seluruh pelosok tanah air.

Namun layaknya pisau bermata dua, penggunaan TIK dalam pendidikan juga menimbulkan kekhawatiran jika tidak dikelola dan dipantau dengan baik. Kekhawatiran utama  tentunya adalah pada siswa yang dapat saja mengakses situs yang tidak sepantasnya dikonsumsi oleh mereka. Namun hal ini bisa dikurangi dengan pengawasan yang baik dari para tutor dan guru yang mendidik menggunakan TIK ini. Selain itu, meminimalkan dampak negatif ini juga bisa dilakukan dengan memasang software filter untuk mengakses situs tertentu saja atau mem-blok situs tertentu.

Kategori:Uncategorized

MENGATASI KEBODOHAN PADA KOMUNITAS ADAT TERPENCIL DENGAN TEKNOLOGI YANG RAMAH BUDAYA

11 Maret, 2009 1 komentar

MENGATASI KEBODOHAN PADA KOMUNITAS ADAT TERPENCIL DENGAN TEKNOLOGI YANG RAMAH BUDAYA

Oleh: Alfa Saputra, S.Pd.

Wilayah Indonesia yang luas dan terdiri atas ribuan pulau serta beragamnya kekayaan adat yang dimiliki beserta suku-suku di dalamnya membuat sebagai suku adat tersebut tidak dapat menikmati proses pendidikan dan fasilitas lainnya yang diberikan oleh pemerintah kepada anak bangsa. Walaupun harus diakui juga bahwa faktor sarana dan prasarana penghubung seperti jalan, jembatan dan lain sebagainya memberikan pengaruh terhadap kurangnya akses yang dapat dirasakan oleh saudara kita di daerah terpencil tadi.

Dalam Surat Keputusan Presiden No. 111 tahun 1999 disebutkan bahwa Pengertian Komunitas Adat Terpencil adalah kelompok sosial budaya yang bersifat lokal dan terpencar serta kurang atau belum terlibat dalam jaringan dan pelayanan baik sosial, ekonomi maupun politik. Berdasarkan pengertian tersebut, maka kelompok masyarakat tertentu dapat dikategorikan sebagai Komunitas Adat Terpencil jika terdapat kriteria-kriteria umum yang berlaku universal sebagai berikut: berbentuk komunitas kecil, tertutup dan homogen; pranata sosial bertumpu pada hubungan kekerabatan; pada umumnya terpencil secara geografis dan relatif sulit dijangkau; pada umumnya masih hidup dengan sistem ekonomi sub sistem; peralatan teknologinya sederhana; ketergantungan pada lingkungan hidup dan sumber daya alam setempat relatif tinggi; terbatasnya akses pelayanan sosial, ekonomi, dan politik.

Dengan demikian maka berdasarkan kriteria tersebut Komunitas Adat Terpencil dapat dikelompokkan berdasarkan habitat dan atau lokalitas sebagai berikut: dataran tinggi / pegunungan; dataran rendah; daerah rawa; daerah pantai/laut; daerah pasca/rawan konflik; daerah perbatasan; kawasan industri; daerah rawan bencana; dan wilayah pemekaran. Komunitas Adat Terpencil juga dapat dikategorikan orbitasinya sebagai berikut: Kelana, Menetap Sementara, dan Menetap. Memperhatikan pengertian, kriteria, habitat dan kategori maka jumlah KAT yang dikategorikan terpencil di Indonesia dengan persebarannya adalah sebanyak 205.029 KK atau sekitar 1.025.000 jiwa (tabel terlampir) sedangkan jumlah yang sedang diberdayakan 8.338 KK/ lokasi dan jumlah yang sudah diberdayakan 51.398 KK/lokasi (data Departemen Sosial RI tahun 2000).

Upaya pemberdayaan Komunitas Adat Terpencil ditujukan untuk meningkatkan taraf kesejahteraan sosial mereka, sehingga harkat dan martabat mereka dapat setaraf dengan bangsa Indonesia pada umumnya. Dean H. Hepwort menyatakan; “Social workers professional relationships are built on regard for individual worth and dignity, and are advanced by mutual participation, acceptance, confidentialy, honesty and responsibility handling of conflict”. Pekerja sosial profesional membangun relasi melalui pengakuan terhadap martabat dan harga diri individu, dengan berpartisipasi, penerimaan, kerahasiaan, keramahan dan tanggung jawab dalam menangani konflik. Sedangkan M. Alwi Dahlan dalam bukunya menyatakan; “Memang benar bahwa tingkat seseorang pada kualitas tertentu dapat mengangkat martabat dan kelompok atau masyarakat luas”.

Kualitas manusia dinyatakan bahwa kualitas manusia terdiri dari kualitas fisik dan kualitas non fisik. Kualitas fisik indikatornya antara lain angka kematian, angka kesakitan, angka kelahiran, kemampuan paru-paru, ukuran tinggi dan berat badan dan lain sebagainya. Sedangkan kualitas nonfisik mencakup kualitas kepribadian, kualitas bermasyarakat, kualitas berbangsa, kualitas spiritual, kualitas intelektual, wawasan lingkungan dan kualitas kekeluargaan. Maka untuk mewujudkan kondisi yang diinginkan seperti yang disebut diatas perlu adanya intervensi sosial, terutama dalam rangka meningkatkan kompetensi, intelektual dan mental spiritual mereka.

Maka jawaban dari upaya intervensi sosial yang bisa diberikan untuk meningkatkan martabat masyarakat yang termasuk dalam komunitas adat terpencil (KAT) adalah dengan mengusahakan pendidikan bagi mereka. Pendidikan yang tepat bagi KAT tentunya bukanlah pendidikan formal yang mengikat bagi mereka. Pendidikan yang tepat bagi KAT adalah pendidikan yang fleksibel dengan tidak meninggalkan kekhasan dari kekayaan khazanah adat istiadat mereka, sehingga lebih tepat dikatakan sebagai pendidikan alternatif yang ranahnya bisa formal, informal ataupun nonformal. Metode yang diberikan juga metode yang tidak menghilangkan kebiasaan positif mereka yang berasal dari akar rumput dan adiluhung secara turun-temurun.

Sentuhan yang diberikan dalam pendidikan alternatif yang diberikan bagi masyarakat KAT adalah sentuhan yang tulus dan khas karena keikhlasan dalam mendidik masyarakat KAT adalah hal utama yang harus dimiliki oleh para pendidik yang akan terjun ke sana. Saat ini hampir sebagian penduduk Indonesia telah dapat menikmati teknologi walaupun hanya dalam tatanan aplikasi hiburan atau komunikasi pasif, televisi dan radio hampir dimiliki oleh 70% warga Indonesia. Sebagian penduduk Indonesia lainnya telah menggunakan teknologi tinggi untuk keseharian hidup mereka – bahkan telah menjadi gaya hidup tersendiri bagi mereka. Namun adalah suatu ironi ketika sebagian masyarakat Indonesia lainnya belum bisa menikmati teknologi dalam keseharian hidup mereka karena keterbatasan sarana atau juga karena ingin menjaga kemurnian nilai (adiluhung) budaya mereka. Namun tak dapat kita pungkiri bahwa teknologi akan berperan besar dalam kehidupan serta pemberdayaan suatu komunitas. Upaya pencerdasan masyarakat KAT ini dilakukan dengan banyak cara dan metode. Selain mengirimkan tutor dan pendidik yang handal untuk mendidik masyarakat KAT tentunya teknologi juga akan berperan besar dalam proses pemberdayaan pendidikan bagi masyarakat KAT.

Teknologi ini harus dijaga agar tidak merusak kemurnian budaya masyarakat pada komunitas tersebut. Teknologi ini akan mulai digunakan oleh masyarakat KAT sebagai upaya peningkatan taraf hidup dan pemberdayaan pendidikan mereka. Salah satu dari sekian banyak KAT yang ada di Indonesia yang sudah mulai memanfaatkan teknologi dalam keseharian mereka adalah Suku Bunggu. Suku Bunggu adalah nama yang diberikan kepada komunitas suku yang mendiami daerah pegunungan di Mamuju Utara dengan pola hidup nomaden. Beberapa di antara mereka telah berinteraksi dengan suku lain. Namun, tidak sedikit pula yang masih bertahan hidup di pedalaman dan menjadi komunitas suku terasing. Setelah hampir selama satu jam melalui jalan milik perkebunan kelapa sawit, akhirnya tiba juga di sebuah jembatan kayu. Di seberang jembatan berdiri kokoh pintu gerbang berwarna putih bertuliskan selamat datang di Desa Pakava. Desa ini merupakan salah satu perkampungan suku Bunggu yang ada di Mamuju Utara. Beberapa orang di antara Suku Bunggu yang umumnya masih dikenal sebagai salah satu komunitas suku terasing mulai mengenal interaksi dengan suku lain dan membentuk perkampungan. Secara umum, perkampungan Suku Bunggu yang ada di Mamuju Utara, yakni di Desa Bambaira, Desa Pakava, Desa Sarjo, Desa Polewali, dan ada yang berbaur di pemukiman transmigrasi di Desa Martasari. Kehidupan sehari-hari mereka lebih banyak digantungkan pada alam. Selama berpuluh tahun mereka dikenal sebagai masyarakat yang memanfaatkankan hasil alam di sekitarnya. Desa Pakava akan dijadikan enklave perkampungan adat Suku Bunggu. Kunjungan Fajar ke komunitas Suku Bunggu yang ada di Desa Pakava beruntung. Penyebaran mereka hingga ke Mamuju Utara dan beberapa daerah lainnya lebih banyak dipengaruhi pola hidup nomaden atau hidup berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya. Rumah yang digunakan untuk berlindung dari terpaan sinar matahari, hujan dan serangan binatang buas, selalu dalam bentuk darurat atau tidak permanen. Namun sekarang, beberapa suku Bunggu mulai menemukan titik balik dari kehidupan berkelana mereka menjadi hidup menetap dan membentuk sebuah perkampungan. Mereka mulai mengenal rumah berdinding dan berlantai papan. Atap memang masih tetap menggunakan daun rotan atau daun nira.

Pendidikan merupakan jembatan untuk membuka kebuntuan akses dan menempatkan kelompok masyarakat terbelakang kepada wilayah pencerahan yang dapat membebaskan komunitas masyarakat yang berada di pedalaman dan jauh dari gemerlap serta hiruk-pikuk kota. Melepaskan belenggu serta jerat kebodohan dan kemiskinan merupakan agenda politik pendidikan yang dapat menjadikan dunia tanpa batas Berangkat dari kompleksitas geografis wilayah Indonesia, salah satu kiat menggapai atau menyentuh daerah-daerah pedalaman dan pelosok di tanah air adalah lewat program pendidikan jarak jauh (distance learning). Lewat program ini diharapkan belenggu kebodohan dan kemiskinan yang dirasakan sebagian penduduk negeri ini di daerah pedalaman Papua, Kalimantan, Sulawesi dan Sumatera, dapat terjangkau. Masalahnya, jika program pendidikan jarak jauh ini dilakukan dengan mengedepankan teknologi sebagai basis utamanya, hal ini sangat mustahil untuk dilakukan. Pasalnya, harus diakui penguasaan teknologi masyarakat Indonesia masih sangat minim.

Ada dua alternatif pengembangan program jarak jauh. Pertama, pengembangan model distance learning dengan konsep direct learning (DL) melalui pengembangan pusat pelatihan berbasis komunitas. Model ini dikembangkan dengan memberikan pelatihan pada konstituen utama yang selanjutnya diminta menjadi sukarelawan untuk pengembangan program di tengah-tengah komunitas. Kedua, pengembangan model pendidikan jarak jauh dengan mengadopsi sistem kelas bergerak (mobile classroom). Model ini dikembangkan mengingat kondisi wilayah pedalaman dan daerah-daerah di perbatasan yang relatif sulit untuk mendirikan pusat-pusat atau kelas-kelas belajar permanent. Karena itu, pengembangan model kelas bergerak sangat bergantung pada kondisi wilayah yang menjadi tempat pengembangan program pendidikan jarak jauh. Pengembangan model pendidikan jarak jauh ini dapat menjadi alternatif dalam penuntasan masalah-masalah pendidikan, terutama bagi kelompok masyarakat migran di daerah-daerah perbatasan dan daerah terluar Indonesia. Pendidikan jarak jauh pada kondisi awal sudah dijalankan pemerintah melalui berbagai upaya, baik melalui belajar jarak jauh yang dikembangkan Universitas Terbuka maupun pendidikan jarak jauh yang dikembangkan Pusat Teknologi Komunikasi dan Informasi Departemen Pendidikan Nasional. Program pembelajaran multimedia ini, antara lain berupa program SMP dan SMA terbuka, serta pendidikan dan latihan siaran radio pendidikan. Berkenaan dengan itu, yang pasti sasaran dari program pendidikan jarak jauh tidak lain adalah memberikan kesempatan kepada anak-anak bangsa untuk mengecap pendidikan di tingkat yang lebih tinggi, bahkan tidak terkecuali anak didik yang sempat putus sekolah, baik untuk pendidikan dasar maupun menengah. Demikian pula bagi para guru yang memiliki sertifikasi lulusan SPG/SGO/KPG yang karena kondisi tempat bertugas di daerah terpencil, pedalaman, di pegunungan, dan banyak pula yang dipisahkan pulau, maka peluang untuk mendapatkan pendidikan melalui program pendidikan jarak jauh mutlak menjadi terbuka lebar. Untuk itu, pemerintah telah melakukan dengan berbagai terobosan dalam upaya meningkatkan mutu sumber daya manusia. Upaya keras yang dilakukan adalah dengan melokalisasi daerah terpencil, pedalaman yang sangat terbatas oleh berbagai hal, seperti transportasi, komunikasi, maupun informasi, untuk mendapat pelayanan pendidikan jarak jauh. Langkah ini ditempuh untuk memajukan dunia pendidikan di daerah-daerah terpencil. Pendidikan memang tidak dapat dipisahkan dari teknologi, namun perlu dicarikan formulasi agar teknologi dapat menunjang pemberdayaan pendidikan bagi masyarakat KAT di Indonesia tanpa merusak tatanan nilai budaya yang adiluhung mereka pertahankan.

Daftar Pustaka

Surat Keputusan Presiden No. 111 tahun 1999, Jakarta: Sekneg, 1999

Hepwort, Dean H., Journal of Empowering Society Bases on Education, McGraww Hilal, 2002

Prosiding Seminar Pengembangan Kawasan Tertinggal Berbasis KAT, Jakarta: BAPPENAS, 2004

Mengatasi Kebodohan dengan Teknologi, Jakarta: Suara Pembaharuan, 1 April 2006

Menengok Perkampungan Suku Bunggu, Makasar: Harian Fajar, 27 September 2007

Kategori:Uncategorized