Beranda > Uncategorized > MENGATASI KEBODOHAN PADA KOMUNITAS ADAT TERPENCIL DENGAN TEKNOLOGI YANG RAMAH BUDAYA

MENGATASI KEBODOHAN PADA KOMUNITAS ADAT TERPENCIL DENGAN TEKNOLOGI YANG RAMAH BUDAYA

MENGATASI KEBODOHAN PADA KOMUNITAS ADAT TERPENCIL DENGAN TEKNOLOGI YANG RAMAH BUDAYA

Oleh: Alfa Saputra, S.Pd.

Wilayah Indonesia yang luas dan terdiri atas ribuan pulau serta beragamnya kekayaan adat yang dimiliki beserta suku-suku di dalamnya membuat sebagai suku adat tersebut tidak dapat menikmati proses pendidikan dan fasilitas lainnya yang diberikan oleh pemerintah kepada anak bangsa. Walaupun harus diakui juga bahwa faktor sarana dan prasarana penghubung seperti jalan, jembatan dan lain sebagainya memberikan pengaruh terhadap kurangnya akses yang dapat dirasakan oleh saudara kita di daerah terpencil tadi.

Dalam Surat Keputusan Presiden No. 111 tahun 1999 disebutkan bahwa Pengertian Komunitas Adat Terpencil adalah kelompok sosial budaya yang bersifat lokal dan terpencar serta kurang atau belum terlibat dalam jaringan dan pelayanan baik sosial, ekonomi maupun politik. Berdasarkan pengertian tersebut, maka kelompok masyarakat tertentu dapat dikategorikan sebagai Komunitas Adat Terpencil jika terdapat kriteria-kriteria umum yang berlaku universal sebagai berikut: berbentuk komunitas kecil, tertutup dan homogen; pranata sosial bertumpu pada hubungan kekerabatan; pada umumnya terpencil secara geografis dan relatif sulit dijangkau; pada umumnya masih hidup dengan sistem ekonomi sub sistem; peralatan teknologinya sederhana; ketergantungan pada lingkungan hidup dan sumber daya alam setempat relatif tinggi; terbatasnya akses pelayanan sosial, ekonomi, dan politik.

Dengan demikian maka berdasarkan kriteria tersebut Komunitas Adat Terpencil dapat dikelompokkan berdasarkan habitat dan atau lokalitas sebagai berikut: dataran tinggi / pegunungan; dataran rendah; daerah rawa; daerah pantai/laut; daerah pasca/rawan konflik; daerah perbatasan; kawasan industri; daerah rawan bencana; dan wilayah pemekaran. Komunitas Adat Terpencil juga dapat dikategorikan orbitasinya sebagai berikut: Kelana, Menetap Sementara, dan Menetap. Memperhatikan pengertian, kriteria, habitat dan kategori maka jumlah KAT yang dikategorikan terpencil di Indonesia dengan persebarannya adalah sebanyak 205.029 KK atau sekitar 1.025.000 jiwa (tabel terlampir) sedangkan jumlah yang sedang diberdayakan 8.338 KK/ lokasi dan jumlah yang sudah diberdayakan 51.398 KK/lokasi (data Departemen Sosial RI tahun 2000).

Upaya pemberdayaan Komunitas Adat Terpencil ditujukan untuk meningkatkan taraf kesejahteraan sosial mereka, sehingga harkat dan martabat mereka dapat setaraf dengan bangsa Indonesia pada umumnya. Dean H. Hepwort menyatakan; “Social workers professional relationships are built on regard for individual worth and dignity, and are advanced by mutual participation, acceptance, confidentialy, honesty and responsibility handling of conflict”. Pekerja sosial profesional membangun relasi melalui pengakuan terhadap martabat dan harga diri individu, dengan berpartisipasi, penerimaan, kerahasiaan, keramahan dan tanggung jawab dalam menangani konflik. Sedangkan M. Alwi Dahlan dalam bukunya menyatakan; “Memang benar bahwa tingkat seseorang pada kualitas tertentu dapat mengangkat martabat dan kelompok atau masyarakat luas”.

Kualitas manusia dinyatakan bahwa kualitas manusia terdiri dari kualitas fisik dan kualitas non fisik. Kualitas fisik indikatornya antara lain angka kematian, angka kesakitan, angka kelahiran, kemampuan paru-paru, ukuran tinggi dan berat badan dan lain sebagainya. Sedangkan kualitas nonfisik mencakup kualitas kepribadian, kualitas bermasyarakat, kualitas berbangsa, kualitas spiritual, kualitas intelektual, wawasan lingkungan dan kualitas kekeluargaan. Maka untuk mewujudkan kondisi yang diinginkan seperti yang disebut diatas perlu adanya intervensi sosial, terutama dalam rangka meningkatkan kompetensi, intelektual dan mental spiritual mereka.

Maka jawaban dari upaya intervensi sosial yang bisa diberikan untuk meningkatkan martabat masyarakat yang termasuk dalam komunitas adat terpencil (KAT) adalah dengan mengusahakan pendidikan bagi mereka. Pendidikan yang tepat bagi KAT tentunya bukanlah pendidikan formal yang mengikat bagi mereka. Pendidikan yang tepat bagi KAT adalah pendidikan yang fleksibel dengan tidak meninggalkan kekhasan dari kekayaan khazanah adat istiadat mereka, sehingga lebih tepat dikatakan sebagai pendidikan alternatif yang ranahnya bisa formal, informal ataupun nonformal. Metode yang diberikan juga metode yang tidak menghilangkan kebiasaan positif mereka yang berasal dari akar rumput dan adiluhung secara turun-temurun.

Sentuhan yang diberikan dalam pendidikan alternatif yang diberikan bagi masyarakat KAT adalah sentuhan yang tulus dan khas karena keikhlasan dalam mendidik masyarakat KAT adalah hal utama yang harus dimiliki oleh para pendidik yang akan terjun ke sana. Saat ini hampir sebagian penduduk Indonesia telah dapat menikmati teknologi walaupun hanya dalam tatanan aplikasi hiburan atau komunikasi pasif, televisi dan radio hampir dimiliki oleh 70% warga Indonesia. Sebagian penduduk Indonesia lainnya telah menggunakan teknologi tinggi untuk keseharian hidup mereka – bahkan telah menjadi gaya hidup tersendiri bagi mereka. Namun adalah suatu ironi ketika sebagian masyarakat Indonesia lainnya belum bisa menikmati teknologi dalam keseharian hidup mereka karena keterbatasan sarana atau juga karena ingin menjaga kemurnian nilai (adiluhung) budaya mereka. Namun tak dapat kita pungkiri bahwa teknologi akan berperan besar dalam kehidupan serta pemberdayaan suatu komunitas. Upaya pencerdasan masyarakat KAT ini dilakukan dengan banyak cara dan metode. Selain mengirimkan tutor dan pendidik yang handal untuk mendidik masyarakat KAT tentunya teknologi juga akan berperan besar dalam proses pemberdayaan pendidikan bagi masyarakat KAT.

Teknologi ini harus dijaga agar tidak merusak kemurnian budaya masyarakat pada komunitas tersebut. Teknologi ini akan mulai digunakan oleh masyarakat KAT sebagai upaya peningkatan taraf hidup dan pemberdayaan pendidikan mereka. Salah satu dari sekian banyak KAT yang ada di Indonesia yang sudah mulai memanfaatkan teknologi dalam keseharian mereka adalah Suku Bunggu. Suku Bunggu adalah nama yang diberikan kepada komunitas suku yang mendiami daerah pegunungan di Mamuju Utara dengan pola hidup nomaden. Beberapa di antara mereka telah berinteraksi dengan suku lain. Namun, tidak sedikit pula yang masih bertahan hidup di pedalaman dan menjadi komunitas suku terasing. Setelah hampir selama satu jam melalui jalan milik perkebunan kelapa sawit, akhirnya tiba juga di sebuah jembatan kayu. Di seberang jembatan berdiri kokoh pintu gerbang berwarna putih bertuliskan selamat datang di Desa Pakava. Desa ini merupakan salah satu perkampungan suku Bunggu yang ada di Mamuju Utara. Beberapa orang di antara Suku Bunggu yang umumnya masih dikenal sebagai salah satu komunitas suku terasing mulai mengenal interaksi dengan suku lain dan membentuk perkampungan. Secara umum, perkampungan Suku Bunggu yang ada di Mamuju Utara, yakni di Desa Bambaira, Desa Pakava, Desa Sarjo, Desa Polewali, dan ada yang berbaur di pemukiman transmigrasi di Desa Martasari. Kehidupan sehari-hari mereka lebih banyak digantungkan pada alam. Selama berpuluh tahun mereka dikenal sebagai masyarakat yang memanfaatkankan hasil alam di sekitarnya. Desa Pakava akan dijadikan enklave perkampungan adat Suku Bunggu. Kunjungan Fajar ke komunitas Suku Bunggu yang ada di Desa Pakava beruntung. Penyebaran mereka hingga ke Mamuju Utara dan beberapa daerah lainnya lebih banyak dipengaruhi pola hidup nomaden atau hidup berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya. Rumah yang digunakan untuk berlindung dari terpaan sinar matahari, hujan dan serangan binatang buas, selalu dalam bentuk darurat atau tidak permanen. Namun sekarang, beberapa suku Bunggu mulai menemukan titik balik dari kehidupan berkelana mereka menjadi hidup menetap dan membentuk sebuah perkampungan. Mereka mulai mengenal rumah berdinding dan berlantai papan. Atap memang masih tetap menggunakan daun rotan atau daun nira.

Pendidikan merupakan jembatan untuk membuka kebuntuan akses dan menempatkan kelompok masyarakat terbelakang kepada wilayah pencerahan yang dapat membebaskan komunitas masyarakat yang berada di pedalaman dan jauh dari gemerlap serta hiruk-pikuk kota. Melepaskan belenggu serta jerat kebodohan dan kemiskinan merupakan agenda politik pendidikan yang dapat menjadikan dunia tanpa batas Berangkat dari kompleksitas geografis wilayah Indonesia, salah satu kiat menggapai atau menyentuh daerah-daerah pedalaman dan pelosok di tanah air adalah lewat program pendidikan jarak jauh (distance learning). Lewat program ini diharapkan belenggu kebodohan dan kemiskinan yang dirasakan sebagian penduduk negeri ini di daerah pedalaman Papua, Kalimantan, Sulawesi dan Sumatera, dapat terjangkau. Masalahnya, jika program pendidikan jarak jauh ini dilakukan dengan mengedepankan teknologi sebagai basis utamanya, hal ini sangat mustahil untuk dilakukan. Pasalnya, harus diakui penguasaan teknologi masyarakat Indonesia masih sangat minim.

Ada dua alternatif pengembangan program jarak jauh. Pertama, pengembangan model distance learning dengan konsep direct learning (DL) melalui pengembangan pusat pelatihan berbasis komunitas. Model ini dikembangkan dengan memberikan pelatihan pada konstituen utama yang selanjutnya diminta menjadi sukarelawan untuk pengembangan program di tengah-tengah komunitas. Kedua, pengembangan model pendidikan jarak jauh dengan mengadopsi sistem kelas bergerak (mobile classroom). Model ini dikembangkan mengingat kondisi wilayah pedalaman dan daerah-daerah di perbatasan yang relatif sulit untuk mendirikan pusat-pusat atau kelas-kelas belajar permanent. Karena itu, pengembangan model kelas bergerak sangat bergantung pada kondisi wilayah yang menjadi tempat pengembangan program pendidikan jarak jauh. Pengembangan model pendidikan jarak jauh ini dapat menjadi alternatif dalam penuntasan masalah-masalah pendidikan, terutama bagi kelompok masyarakat migran di daerah-daerah perbatasan dan daerah terluar Indonesia. Pendidikan jarak jauh pada kondisi awal sudah dijalankan pemerintah melalui berbagai upaya, baik melalui belajar jarak jauh yang dikembangkan Universitas Terbuka maupun pendidikan jarak jauh yang dikembangkan Pusat Teknologi Komunikasi dan Informasi Departemen Pendidikan Nasional. Program pembelajaran multimedia ini, antara lain berupa program SMP dan SMA terbuka, serta pendidikan dan latihan siaran radio pendidikan. Berkenaan dengan itu, yang pasti sasaran dari program pendidikan jarak jauh tidak lain adalah memberikan kesempatan kepada anak-anak bangsa untuk mengecap pendidikan di tingkat yang lebih tinggi, bahkan tidak terkecuali anak didik yang sempat putus sekolah, baik untuk pendidikan dasar maupun menengah. Demikian pula bagi para guru yang memiliki sertifikasi lulusan SPG/SGO/KPG yang karena kondisi tempat bertugas di daerah terpencil, pedalaman, di pegunungan, dan banyak pula yang dipisahkan pulau, maka peluang untuk mendapatkan pendidikan melalui program pendidikan jarak jauh mutlak menjadi terbuka lebar. Untuk itu, pemerintah telah melakukan dengan berbagai terobosan dalam upaya meningkatkan mutu sumber daya manusia. Upaya keras yang dilakukan adalah dengan melokalisasi daerah terpencil, pedalaman yang sangat terbatas oleh berbagai hal, seperti transportasi, komunikasi, maupun informasi, untuk mendapat pelayanan pendidikan jarak jauh. Langkah ini ditempuh untuk memajukan dunia pendidikan di daerah-daerah terpencil. Pendidikan memang tidak dapat dipisahkan dari teknologi, namun perlu dicarikan formulasi agar teknologi dapat menunjang pemberdayaan pendidikan bagi masyarakat KAT di Indonesia tanpa merusak tatanan nilai budaya yang adiluhung mereka pertahankan.

Daftar Pustaka

Surat Keputusan Presiden No. 111 tahun 1999, Jakarta: Sekneg, 1999

Hepwort, Dean H., Journal of Empowering Society Bases on Education, McGraww Hilal, 2002

Prosiding Seminar Pengembangan Kawasan Tertinggal Berbasis KAT, Jakarta: BAPPENAS, 2004

Mengatasi Kebodohan dengan Teknologi, Jakarta: Suara Pembaharuan, 1 April 2006

Menengok Perkampungan Suku Bunggu, Makasar: Harian Fajar, 27 September 2007

Kategori:Uncategorized
  1. 12 Maret, 2009 pukul 6:29 am

    Ya memang sudah seharusnya ramah budaya, karena KAT ini masih memegang erat sekali terhadap budayanya tersebut..

    Salam SREG….

  1. No trackbacks yet.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: